Translate

Senin, 06 April 2015

Doa agar terhindar dari perbuatan Maksiat

اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَساَلُكَ التَّوبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوذُبِكَ مِنَ المَعصِيَةِ وَاَسبَابِهَا وَذَكِّرنَا بِالخَوفِ مِنكَ قَبلَ هُجُومِ خَطَرَاتِهَا وَاحمِلنَا على النَّجَاةِ مِنهَا وَ مِنَ التَّفَكُّرِ فِى طَرَائِقِهَا وَامحُ مِن قُلُوبِنَا حَلَاوَةَ مَااجتَنَينَاهُ مِنهَا وَاستَبدِلْهَا بِالكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا.


ALLAHUMMA INNAA NAS-ALUKAT TAUBATA WADAWAAMAHAA WANA'UUDZUBIKA MINAL MA'SHIYYATI WA ASBAABIHAA WA DZAKIRNAA BIL KHAUFI MINKA QABLA HUJUUMI KHATHARAATIHAA WAHMILNAA 'ALAN NAJAATI MIHAA WAMINAT TAFAKKURI FII THARAA-IQIHAA WAMHU MIN QULUUBINAA HALAAWATA MAJTANAINAAHU MINHAA WASTABDILHAA BIL KARAAHATI LAHAA WATHTHAMA'A LIMAA HUWA BIDHIDDIHAA.


"Wahai Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk sehingga kami senantiasa bertaubat atas segala dosa dan kesalahan kami. Dan kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan maksiat dan sebab-sebabnya, dan jadikanlah kami selalu ingat kepada-Mu, sebelum datangnya hasrat untuk berbuat maksiat yang penuh bahaya. Selamatkanlah dengan adanya perasaan benci selalu terhadap perbuatan maksiat serta terbitkanlah dalam hati kami adanya rasa loba untuk berbuat sebaliknya."





Manusia adalah gudang salah dan dosa, tapi minimalkan perbuatan salah/dosa se minimal mungkin. bacalah doa tersebut sebanyak 7kali sesudah sholat fardhu, insyaallah kita akan selalu berada dalam jalan dan lindungan Allah SWT. amin.. amin.. yaa robbal alamin.








Sumber : website

Sabtu, 04 April 2015

Bahasa Bunga (Nama Bunga dan Artinya)

nih gw tuliskan "Bahasa Bunga" di edisi malam minggu ini..
(Oops, malam minggu tlah berakhir) hahahaha
bagi pecinta komik, biasanya terdapat banyak kata yang sering diungkapkan dnegan menggunakan bahasa bunga, check this out!
bagi para cowo, jangan sampe salah kasih bunga ya.. dan bagi para cewe, jangan sampe salah mengartikan bunga pemberian cowo.
nih gw rangkum dari beberapa website dan dari blog orang, URL blog'nya uda lupa. yaaa semoga ga dilindungi hak cipta.

A
• Acacia = cinta yang murni, elegan, persahabatan, harapan
• Acanthus = keahlian
• Achillea millefolia = perang
• Aconite (Wolf’s Bane) = kebencian terhadap seseorang
• Acorn (biji pohon oak) = simbol kehidupan dan keabadian Nordic
• Agapanthus (Lily of The Nile) = Surat Cinta
• Agnus castus = dingin, lalai
• Allspice (rempah-rempah) = rasa kasihan
• Almond Blossom (bunga almond) = harapan, daya tarik pecinta
• Aloe (lidah buaya) = duka, cita-cita
• Alstroemeria (peruvian lily) = kesetiaan, persabatan
• Alyssum = kecantikan yang sangat berharga
• Ambrosia (makanan para dewa yunani) = CLBK (cinta lama bersemi kembali);P
• Amaranth = kesetiaan
• Amaranth, Globe = tak tergantikan, cinta yang abadi dan tak tergantikan
• Amaryllis = kebanggaan, pemalu, dan kecantikan yang memuaskan
• Anemone = cinta yang tidak luntur, kebenaran, ketulusan, antisipasi, menyerah, harapan yang pudar
• Angelica = inspirasi
• Aniseed = kembali muda
• Apple blossom = keberuntungan, pilihan
• Arbor Vi = persahabatan yang sebenarnya
• Arbutus = “kamulah yang kucin”
• Artemisia = martabat/kemuliaan
• Asphodel = “penyesalanku padamu sampai akhir”
• Aster = cinta, kerapian/kehalusan
• Azalea = berhati-hatilah demi aku, semangat yang mudah kendur, kesederhanaan dalam sifat, simbol kewanitaan cina.
B
• Bachelor’s Buttons (bunga jagung) = jomblo, mengharapkan cinta, indahnya kehidupan bagi orang jomblo
• Baby’s Breath = suci pada hati, cinta yang tiada berakhir, kebahagiaan
• Basil = keinginan terbaik, cinta, kebencian
• Bay Leaf (Daun salam) = kekuatan, “aku berubah, tetapi dalam kematian”
• Bear’s Breeches = kesenian yang artistik
• Begonia = waspada
• Betony = kejutan
• Bells Of Ireland = “semoga berhasil”
• Bilberry = penghianatan
• Bird Of Paradise = keluhungan/kemuliaan
• Bittersweet = kebenaran (arti nama bunganya sendiri adalah suka & duka)
• Bluebell = rendah hati, keteguhan
• Borage = keberanian/kegagahan, ketumpulan (?)
• Bouquet of withered flowers = cinta ditolak
• Broom = rendah hati, kecermatan
• Bulrush = kecerobohan, kejianakan
• Burnet = hati yang gembira
• Buttercup = childish
C
• Cactus = ketahanan, kehangatan, kebesaran
• Calendula = kegembiraan
• Calla = kecantikan yang indah
• Camellia = penghormatan, kesempurnaan, kecantikan, hadian ‘semoga berhasil’ untuk laki-laki
• Camellia (Pink) = kerinduan untukmu
• Camellia (Red) = kamu menyala-nyala dalam hatiku
• Camellia (White) = kamu manis sekali
• Camomile = semangat saat kesulitan
• Candytuft = lalai
• Carnation (in general) = ikatan kasih sayang, kesehatan dan enegi, daya tarik, “kasihannya hatiku yang malang!?”
• Carnation (pink) = “aku tidak akan melupakanmu”
• Carnation (purple) = ketidak teraturan, bertingkah, berubah-ubah
• Carnation (red) = kekaguman, “luka hatiku untukmu!”
• Carnation (solid colour) = ya!
• Carnation (striped) = penolakan, “maaf, aku nggak bisa bersamamu, kuharap aku bisa bersamamu”
• Carnation (white) = manis dan cantik, lugu, cinta suci, hadiah “good luck” untuk perempuan
• Carnation (yellow) = “kamu sudah mengecewakan aku”, penolakan, penghinaan
• Catl = damai, kemakmuran
• Cedar = aku hidup untukmu, memikirkanku
• Celandine = kebahagiaan yang akan datang
• Chamomile = kesabaran
• Chysanthemum (in general) = kegembiraan, “kamu adalah teman yang luar biasa”
• Chysanthemum (red) = “aku cinta”
• Chysanthemum (white) = kebenaran
• Chysanthemum (yellow) = cinta yang diabaikan
• Cinnamon = “keberuntunganku milikmu”
• Clover (four-leaf) = “semoga berhasil”, “jadilah milikku”
• Columbine = kebodohan
• Coreopsis = selalu bahagia
• Corn = kekayaan
• Cornflower = kelezatan/kehalusan, beradab budi pekerti
• Coriander = bernafsu
• Cowslip = keprihatinan, rahmat kemenangan
• Coxcomb = kesombongan
• Crocus = kebahagiaan, mengkhianati/menyakiti
• Crown Imperial = keagungan, kekuatan
• Cyclamen = pengunduran diri dan “selamat tinggal”, pemalu
D
• Daffodil = menghormati, cinta bertepuk sebelah tangan, dusta
• Dahlia = selera yang bagus, ketidakstabilan
• Daisy = polos, kesucian, keteguhan, bahagian, kesederhanaan, kesetiaan cinta
• Dandelion = keinginan terkabulkan, kesetiaan, ramalan sederhana
• Daphne odora = lukisan lily
• Delphinium = tidak sungguh-sungguh/dibuat-buat
• Dogwood = ketahanan
E
• Edelweiss = keberanian yang mulia
• Eglantine = puisi, “aku terluka untuk sembuh”
• Elder = antusias
• Elm = bermartabat
• Eucalyptus = perlindungan
• Eupatorium = membatalkan/penundaan
F
• Fennel = kekuatan, balasan atas segala doa
• Fern = ketulusan
• Fern (Magic) = dayatarik, percaya diri, perlindungan
• Fern (Maidenhair) = rahasia ikatan cinta
• Feverfew = perlindungan
• Fig = argumen
• Fir = waktu
• Flax = lambang rumah tangga, “aku merasakan kebaikanmu”, takdir
• Forget-me-not = cinta murni, kenangan, “jangan lupakan aku”
• Forsythia = antisipasi
• Foxglove = ketidak tulusan hati
• Fuchsia = selera yang bagus
• Fuller’s Teasel = kebencian terhadap seseorang
G
• Gardenia = “kamu cantik”, cinta rahasia, beradab, kebahagiaan
• Garland of roses = balasan atas kebaikan
• Garlic = kekuatan, kegagahan
• Geranium (Oak leafed) = persahabatan
• Geranium (Rose) = pilihan
• Geranium (Scented) = pilihan, kebodohan, melankolis
• Gillyflower = ikatan kasih sayang
• Gladiolus = cinta pada pandangan pertama, sudah ada yang punya, kekuatan karakter, kedermawanan
• Gloxinia = cinta pada pandangan pertama
• Golden Rod = pencegahan, berhati-hati
• Grass = pengajuan, kegunaan
• Guelder Rose = musim dingin, umur
H
• Harebell = pengajuan, duka-cita
• Hawthorn = harapan
• Hazel = perdamaian
• Heather (lavender) = penghormatan, kesendirian
• Heather (pink) = semoga berhasil
• Heather (white) = perlindungan, keinginan akan terkabulkan, semoga berhasil
• Helenium = air mata
• Heliotrope = kesetiaan, cinta yang abadi
• Hemlock – You will be my death (?)
• Hibiscus = kecantikan yang bagus
• Holly = pertahanan, kebahagiaan berumah tangga, persiapan untuk masa depan
• Hollyhock = ambisi perempuan, kesuburan
• Honesty = kejujuran, dayatarik
• Honeysuckle = dermawan dan kasih sayang, manisnya perilaku
• Hop =ketidak adilan
• Hyacinth (general) = ketergesaan, duka cita, bunga yang dipersembahkan untuk Apollo
• Hyacinth (blue) = kesetiaan
• Hyacinth ( purple) = “maafkan aku”, duka cita
• Hyacinth (red or pink) = permainan
• Hyacinth (white) = kecantikan, “aku berdoa untukmu”
• Hyacinth (yellow) = cemburu
• Hydrangea = “terima kasih sudah memahamiku”, dingin (tidak ramah), kekejaman, kesombongan
• Hyssop = menghindari kekuatan jahat, kebersihan
I
• Ice plant = “penampilanmu menakutkan aku”
• Iris = kekuatan, harapan, kebijaksanaan dan keberanian, memuji, kepandaian berbicara, pesan
• Ivy = persahabatan, kasih sayang, kesetiaan, pernikahan
J
• Jasmine = ramah, kekayaan, anggun dan elegan
• Jonquil = “cin aku”, CLBK, rasa, simpati
• Judas Tree = tidak dipercaya, penghianatan
• Juniper = perlindungan, pertolongan
K
• Kingcup = ingin kaya
L
• Laburnum = meninggalkan, kecantikan yang sia-sia
• Larkspur (pink) = berubah-ubah, sembrono
• Laurel (mounn) = ambisi, kejayaan
• Lavender = kesetiaan, rasa curiga
• Lemon = nafsu
• Lemon Balm = membawakan cinta
• Lemon verbena = memikat lawan bercinta
• Lilac = cinta pertama
• Lily (general) = kesucian
• Lily (calla) = kecantikan
• Lily (day) = menggoda
• Lily (eucharis) = pesona kegadisan
• Lily (orange) = kebencian
• Lily (tiger) = kebanggaan, harga diri
• Lily (white) = keperawanan, kesucian, kemuliaan, “sangat menyenangkan bisa bersamamu”
• Lily (yellow) = salah dan benar
• Lily of the valley = manis, kembalinya kebahagiaan, kerendahan hati, kesucian yang sempurna
• Lobelia = kedengkian
• Love-in-a-mist = kebingungan
• Love-lies-bleeding = putus asa
• Lupin = penghormatan
M
• Magnolia = manis, kecantikan, natural, kebengsawanan, bermartabat, kecantikan yang istimewa
• Marigold = menghibur hati, duka cita, kekejaman, cemburu, kasih sayang yang sakral
• Marjoram (sweet) = kebahagiaan, tersipu malu
• Meadowsweet = tak berguna
• Michaelmas Daisy = renungan, “selamat tinggal”
• Mignionette = kemampuanmu melebihi pesonamu
• Mimosa = sensitif
• Mint = perlindungan dari penyakit, kehangatan rasa, kebaikan
• Mistletoe = ciumlah aku, kutaklukkan berbagai kesulitan, tanaman suci India, tanaman ajaib dari pendeta Celtic
• Monkshood = hati-hati, lawan yang mematikan sudah dekat, hukum/sifat yang diidamkan para ksatria
• Morning Glory = pengaruh, keanggunan, kelakuan yang dibuat-buat
• Moss = cinta kasih ibu, murah hati
• Myrrh = kegembiraan
• Myrtle = cinta dalam ketiadaan, kenangan, emblem pernikahan Ibrani
• Myrtle (wax) = disiplin
N
• Narcissus = angkuh, tetaplah semanis seperti dirimu sekarang, kamu terlalu baik mencin dirimu sendiri, harga diri
• Nasturtium = penaklukan/kemenangan, cinta kasih ibu, patriotisme, murah hati
• Nightshade = kebenaran
O
• Oak leaves = keberanian
• Oleander = peringatan
• Orange – Generosity = kedermawanan
• Orange Blossom = kebijaksanaan, cinta abadi, kesucianmu setara dengan kecantikanmu
• Orange (mock) = berkianat/dusta
• Orchid = cinta, kecantikan, beradab, kamu merayuku
• Orchid (Cattleya) = pesona kedewasaan
P
• Palm leaves = kesuksesan
• Pansy = pemikiran, cinta
• Parsley = perayaan
• Pasque Flower = kamu tidak punya tuntutan (bukti)
• Peach blossom = panjang umur, aku tawananmu
• Peony = pemalu, kemarahan
• Peppermint = kehangatan perasaan
• Periwinkle (blue) = awal persahabatan
• Periwinkle (white) = memori yang membahagiakan
• Persicaria = pemugaran
• Petunia = dendam, marah, kehadiranmu membuatku nyaman, tidak pernah putus asa
• Phlox = persetujuan, mimpi indah
• Pine = harapan, kasihan
• Pink = keberanian
• Poinsettia = menjadi gembira
• Polyanthus = membanggakan kekayaan
• Poppy (general) = kematian, terlupakan, imajinasi, royal/boros
• Poppy (red) = luar biasa royal, kepuasan
• Poppy (white) = pelipur lara
• Poppy( yellow) = sukses
• Prickly Pear = menyindir
• Primrose = aku tak bisa hidup tanpamu, cinta anak muda, awal masa muda
• Primrose (evening) = ketidak tetapan
Q
• Quaking Grass = hasutan
• Queen Anne’s Lace = fantasi
• Quince = rayuan
R
• Ranunculus = kamu bercahaya pesona
• Rocket = persaingan
• Rose (red) = aku cinta kamu
• Rose (white) = cinta abadi, polos, amat menyenangkan, rahasia dan diam
• Rose (pink) = kebahagiaan yang sempurna, tolong percayai aku
• Rose (yellow) = persahabatan, cemburu, mencoba untuk peduli
• Rose (black) = mati
• Rose (red and white) = bersama
• Rose (thornless) = cinta pada pandangan pertama
• Rose (single, full bloom) = aku cinta kamu, aku masih mencinmu
• Rose bud = cantik dan muda, kepolosan cinta
• Rose bud (red) = suci dan cantik
• Rose bud (white) = masa gadis
• Rosebud (moss) = pengakuan cinta
• Roses (bouquet of full bloom) = berteriman kasih
• Roses (garland or crown of) = hati-hati dengan kebaikan, hadiah pernikahan, simbol pernikahan superior
• Roses (musk cluster) = pesona
• Rose (tea) = aku akan selalu ingat
• Rose (cabbage) = duta besar cinta
• Rose (Christmas) = menenangkan kegelisahanku, kekhawatiran
• Rose (damask) = wajah yang brilian
• Rose (dark crimson) = berduka cita
• Rose (hibiscus) = kecantikan yang lembut
• Rose leaf = kamu boleh berharap
• Rosemary = kenangan, komitmen, kesetiaan
• Rudbeckia = keadilan
• Rue = meremehkan
S
• Saffron = hati-hati overdosis (Secukupnya saja)
• Sage = kebijaksanaan, umur panjang, kebaikan berumah tangga
• Salvia (blue) = memikirkanmu
• Scabious = cinta yang nggak beruntung
• Shamrock = keceriaan
• Smilax = cantik
• Snapdragon = kecurangan, gadis yang sangat ramah, anggapan
• Snowdrop = harapan
• Spearmint = kehangatan dari sebuah perasaan
• Spiderflower = “kawin lari yuk!”
• Spindle Tree = pesonamu terukir di hatiku
• Statice = kecantikan yang kekal
• Star of Bethlehem = kesucian, perbaikan kesalahan
• Stephanotis = datanglah padaku, hasrat ingin jalan-jalan, kebahagiaan dalam perkawinan
• Stock = kecantikan yang kekal, tepat waktu
• Strawberry = benar-benar baik
• Sunflower = kesetiaan, keanggunan, kamu baik sekali
• Sweet Basil = semoga berhasil
• Sweet pea = selamat tinggal, kedatangan, kepuasan, “terima kasih untuk saat-saat yang menyenangkan”
• Sweet William = berikan aku satu senyuman, perfeksionis, keberanian
• Syringa = kenangan
T
• Tamarisk = kejahatan
• Thrift = simpatik
• Thyme = kekuatan dan keberanian, aktivitas
• Tuberose = kepuasan yang berbahaya
• Tulip(general) = ketenaran, kemurahan hati, pernyataan cinta
• Tulip(red) = percayalah aku, pernyataan cinta
• Tulip(variegated=warna-warni) = mata yang indah
• Tulip(yellow) = cinta bertepuk sebelah tangan
V
• Valerian = sebuah sifat yang mengakomodasi
• Vernal Grass = miskin tetapi bahagia
• Veronica = ketepatan
• Violet = rendah hati, kesetiaan
• Violet (blue) = perhatian, setia, aku akan selalu sungguh-sungguh
• Violet (white) = ayo melakukan perubahan untuk kebahagiaan
• Viscaria = maukah kamu berdansa denganku?
W
• Wallflower = kesetiaan di saat susah
• Water Lily = kesucian hati
• Wistaria = aku bergantung padamu
• Woodruff = manisnya kerendahan hati
• Wormwood = kekurangan/ketidak hadiran
X
• Xeranthemum = keceriaan di bawah kesengsaraan
Y
• Yarrow = menyembuhkan
• Yew = penyesalan/duka cita
Z
• Zinnia = nasihat sebagai teman
• Zinnia (magenta) = kasih sayang abadi
• Zinnia (mixed) = memikirkan ketidak hadiran seorang kawan
• Zinnia (scarlet) = kesetiaan
• Zinnia (white) = kebaikan
• Zinnia (yellow) = kenangan setiap hari






Sumber : Website, Blog orang

"Teori-Teori Sosial" (Jurgen Habermas)

NUR CHOLIFAH (140531100097)
ILMU KOMUNIKASI - C
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA






1.              Teori Kritis Habermas. Habermas ingin melanjutkan proyek modernitas. Tapi, sebelum itu kita harus mengetahui lawannya, yaitu mengapa modernitas ingin disingkirkan. Jawabannya adalah karena Modernitas (yang saya maksud dengan modernitas di sini adalah pemikiran-pemikiran yang lahir dan berkembang dari zaman yang disebut zaman modern dirasa tidak berhasil untuk membebaskan manusia dari pemikiran-pemikiran irasional sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pelopornya. salah satu argumen terbesar adalah yang dilontarkan oleh Mazhab Fraknfurt (tempat Habermas bekerja sendiri) yaitu bahwa modernitas justru melahirkan ilmu pengetahuan yang malah menjadikannya sebuah mitos yang irrasional. Tujuan teori kritis ini adalah memberikan kesadaran untuk membebaskan manusia dari masyarakat irasional dan dengan demikian memberikan pula kesadaran untuk pembangunan masyarkat rasional tempat manusia dapat memuaskan kebutuhan dan kemampuannya.

        Menurut habermas kebuntuan itu adalah karena para pendahulunya masih menggunakan modus filsafat kesadaran yang bersifat monologal. Filsafat kesadaran ini dimulai dari Descartes dan digunakan oleh hampir semua filsuf pencerahan. Dan kebuntuan para pendahulu Habermas dikarenakan mereka menggunakan modus yang sama untuk mengkritik filsafat pencerahan. Yaitu sama-sama dengan ideologi (padahal itu adalah hal yang ditolak oleh Mazhab Frankfurt)

        Lalu teori yang dibangun oleh pendahulunya tersebut diperbarui oleh Habermas. Menurut Habermas yang diinginkan para postmodernis adalah keluar dari rasio yang berpusat pada subjek. Menurut Habermas Modernitas adalah proyek yang tidak pernah selesai. Jalan keluarnya adalah bukan dengan meninggalkannya melainkan dengan membenahi cacat-cacatnya.

2.              Pemikiran filsafat politik dan teori tindakan komunikatif Habermas dibangun untuk menjelaskan bagaimana suatu masyarakat kompleks saat ini menghasilkan produk hukum yang legitim (keabsahan berdasarkan hukum dan undang-undang yang berlaku). Gagasan Habermas mengenai tindakan komunikatif (mudah dimengerti dan dipahami) sangat erat hubungannya dengan situasi demokratif  (mengutamakan persamaan hak dan kewajiban) yang merindukan suatu konsensus
        Artinya, setiap tindakan menjadi tindakan rasional yang berorientasi kepada kesepahaman, persetujuan dan rasa saling mengerti.

3.              (Kata deliberatif berasal dari kata Latin deliberatio atau deliberasi (Indonesia) yang artinya konsultasi, musyawarah, atau menimbang-nimbang). Demokrasi bersifat deliberatif jika proses pemberian alasan atas suatu kandidat kebijakan publik diuji lebih dahulu lewat konsultasi publik, atau diskursus publik. Teori tentang demokrasi deliberatif adalah suatu upaya untuk merekonstruksi proses komunikasi dalam konteks negara hukum demokratis. Masyarakat yang membudayakan proses legislasi hukum secara demokratis akan dirangsang untuk memobilisasi solidaritas sosial yang makin meninggalkan perspektif etnosentris (sikap / pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri) para anggotanya, karena dalam setiap komunikasi autentik (dapat dipercaya, sah) para partisipan dapat mencapai saling pemahaman dengan cara mengambil alih perspektif partner komunikasinya.



4.              Habermas melihat kapitalisme modern seperti yang dikarakterkan oleh dominasi negara atas ekonomi dan bidang-bidang lain dari kehidupan sosial. Bagi Habermas intervensi negara dan akibat pertumbuhan dari nalar instrumental telah menjangkau suatu titik berbahaya yang disebutnya sebagai suatu “utopia negatif” adalah mungkin. Rasionalitas progesif dan putusan-putusan publik lebih menjangkau titik dimana organisasi sosial dan perbuatan putusan mungkin bisa di delegasikan kepada para penghitung mengeluarkannya dari arena perdebatan publik secara bersama-sama.


5.              Menurut Habermas teori praktis adalah tindakan yang membebaskan model teori kritis dengan maksud praktis. Dalam masalah teori-teori Habermas mempunyai beberapa kepentingan. kepentingan pengetahuan dan kepentingan praktis-ide itu bukanlah tidak serupa dengan mengatakan bahwa seorang mahasiswa mengembangkan suatu “kepentingan” dengan maksud untuk memperoleh suatu tingkat dari tujuannya.  Kepentingan yang dibicarakan Habermas ini, bagaimanapun juga dimiliki oleh kita semua dalam keanggotaan masyarakat manusia. Kepentingan selanjutnya yaitu kepentingan praktis, yang pada gilirannya memunculkan ilmu pengetahuan Hermeneutik yang dengan caranya menginterpretasikan tindakan satu sama lain. Baik secara individu, sosial masyarakat maupun secara organisatoris secara kritis menurut Habermas. Kepentingan praktis, kata Habermas memunculkan suatu kepentingan ketiga, “kepentingan emansipatoris“ (emansipatoris = memberdayakan manusia sebagai human, bebas).






Sumber : Website, Buku

"Teori-Teori Sosial" (Friedrich Nietzsche)

       NUR CHOLIFAH (140531100097)
       ILMU KOMUNIKASI - C
       FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
       UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
           




1.      kenyataan itu adalah apa yang nyata yang dapat ditangkap subjek. Objek atau benda itulah kenyataannya. Kenyataan adalah apa yang ada di dunia ini, yang nyata, faktual, yang dapat ditangkap subjek. Konsep ontologi Friedrich Nietzsche mempunyai implikasi dalam ajaran tentang manusia. Manusia untuk menjadi manusia menghadirkan diri lewat budaya. Pandangan tentang manusia dapat dikatakan cenderung ke monisme, yaitu pandangan bahwa materi itu satuan tunggal. dimana hakikat manusia itu adalah tubuhnya. Yang dipandang manusia itu adalah yang bereksistensi, sedangkan eksistensi itu terjadi jika ada tubuh. Hal ini sangat jelas diungkapkan Zarathustra :

Aku adalah tubuh dan “jiwa” demikian dikatakan sang anak. Apa salahnya berbicara seperti seorang anak?
Tapi mereka telah bangun, dan mereka yang tahu berkata : “aku adalah tubuh seluruhnya. Tidak ada yang lain, jiwa adalah sesuatu dari tubuh” (Nietzsche, 1969: 146)

Tubuh adalah sebuah akal besar, kemajemukan yang bermakna satu, perang dan damai, kawanan domba sekaligus gembalanya.

“Akal kecilmu adalah alat dari tubuhmu itu, saudaraku, yang kau sebut “ruh” itu adalah alat dari tubuh. Sebuah alat dan mainan kecil dari akal besar”.

2.      Karya Der Wille zur Macht (The will to power) adalah magnum opus Nieetzsche. Inti semua ajarannya terdapat disini. Segala konsep dan masalah yang diperbncangkan selalu bermuara pada kehendak untuk berkuasa. Sebagai mana diungkapkan oleh Walter Kaufmann :

            Konsepsi kehendak untuk berkuasa adalah titik pusat dari filsafat Nietzsche. Dalam buku Aporishma-nya, ia menemukan kehendak untuk berkuasa, berkarya dalam segala tingkah laku dan penilaian manusia. Dalam Zarathustra, ia mengungkapkan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan motif dasar dan mengatakan bahwa kehendak itu terdapat pada semua makhluk hidup. (Dalam karyanya kemudian ia menganggapnya telah menembus sampai pada kehendak tak hidup) (Kaufmann, 1967: 510)

3.      Nihilisme dipahami sebagai 'kedatangan kekal yang sama (atau dalam terminologi Nietzsche: 'die Ewige Wiederkehr des Gleichen') yang merupakan siklus berulang-ulang dalam kehidupan tanpa makna berarti di baliknya seperti datang dan perginya kegembiraan, duka, harapan, kenikmatan, kesakitan, ke-khilafan, dan seterusnya.

4.      Vitalisme dalam pengertian ini mengandung makna semangat hidup. Hidup itu sangat berharga. Kecintaan yang luar biasa terhadap hidup bukan berarti takut untuk mati. Hidup harus dihadapi dengan penuh keberanian, tidak boleh menyerah. Manusia harus berani berkata ya untuk setiap tantangan dan bahaya. Dari tantangan dan bahaya inilah manusia akan menjadi besar.

            Manusia itu agung asal mau menjulangkan semangat hidup dan gairahnya setinggi-tingginya. Untuk itu, manusia harus bebas dari kekuatiran akan dosa dan bebas dari nilai-nilai tradisional yang membelenggu potensi kemanusiaannya. Cinta kehidupan berarti harus sanggup menangggung kenyataan bahwa manusia bukanlah sesuatu yang sudah selesai, ia selalu dalam proses menjadi. Manusia adalah jembatan antara binatang dan manusia agung. Ke manapun ia menoleh, ia akan menatap ancaman dan bahaya (Fuad Hasan, 1989: 62)

5.      Pemikiran dasar Nietzsche mengenai Tuhan. Nietzsche memahami Tuhan seperti mimpi. Ketika kita tidur dan bermimpi, kita seperti berada di dalam dunia nyata yang ternyata hanya mimpi. Seperti demikianlah mengenai Tuhan. Manusia tidak mampu membedakan antara kenyataan yang sebenarnya dengan kenyataan yang hanya merupakan bayang-bayang. Jika dicoba untuk mengartikannya, Nietzsche menganggap Tuhan hanya proyeksi dari keterbatasan manusia yang merindukan sebuah kekuatan yang tidak terbatas.

     Dengan kematian Tuhan, Nietzsche kemudian mengajukan konsep kelahiran Tuhan baru. Jika Tuhan mati, manusialah yang menjadi Tuhan. Yesus adalah kurban yang harus mati di kayu salib. Kematian yang kemudian disamarkan menjadi sebuah kepercayaan saleh akan cinta Tuhan. Tuhan mengorbankan Yesus demi terbebas dari diriNya sendiri dan orang Yahudi. Tuhan perlu membunuh putraNya untuk terbebas dari diriNya sendiri dan lahir kembali menjadi Tuhan baru yang universal. Demikianlah arti kematian Tuhan yang pertama.

     Yang kedua, kesadaran Yahudi  menginginkan Tuhan yang lebih universal. Dengan matinya Tuhan di kayu salib, Tuhan tidak tampak lagi keyahudiannya. Yahudi lebih memilih menciptakan Tuhan yang penuh kasih dan rela menderita karena kebencian. Dengan nilai kasih yang lebih universal, Tuhan Yahudi telah menjadi Tuhan universal. Tuhan yang lama mati dan Putera menciptakan Tuhan baru bagi kita yang penuh kasih

     ketiga dari kematian Tuhan berkaitan dengan agama Kristiani. Nietzsche mengartikan lain teologi St. Paulus. Teologi Paulus yang banyak dijadikan dasar ajaran kristiani adalah pemalsuan besar-besaran. Dikatakan demikian karena Kematian Putera adalah untuk membayar hutang Tuhan. Nietzsche melihat terlalu besar hutangNya. Tetapi kemudian, Tuhan mengorbankan PuteraNya bukan lagi untuk membebaskan diriNya melainkan demi manusia. Tuhan mengirimkan PuteraNya untuk mati karena cinta, kita menanggapinya dengan perasaan bersalah, bersalah atas kematian tersebut dan menebusnya dengan menyalahkan diri sendiri. Demikianlah kemudian Nietzsche menyebut kita semua sebagai pembunuh Tuhan dengan semua kedosaan kita.

Kebenaran adalah semacam kesalahan , dimana tanpa kebenaran spesies makhluk hidup tentu tidak dapat hidup (Nietzsche, 1968: 493).






Sumber : Website, Buku

"Teori-Teori Sosial" (Pierre Bourdieu)

NUR CHOLIFAH (140531100097)
ILMU KOMUNIKASI - C
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA






Teori-teori sosial menurut Pierre Bourdieu :
-                      Habitus adalah improvisasi yang teratur. Dalam berhubungan dengan dunia sosial, individu tidak terlepas dari interaksi dan ruang sosial. Untuk memenuhi syarat atau penerimaan secara sosial, individu harus mempunyai Kapital dalam memenuhi interaksi dan ruang sosialnya dengan orang lain. Kapital menurut Bourdieu terdiri dari ekonomi, sosial, budaya, simbolik.
Contoh kapital budaya:  seorang mahasiswa yang memiliki habitus membaca buku, maka ia akan mendapat kapital budaya (pengetahuan) yang tinggi. Jadi, ketika praktik/diskusi di kelas kuliah, maka akan terlihat banyak mahasiswa dengan tingkat habitus dan kapital yang berbeda-beda. Bourdieu tidak membagi manusia menjadi dua kelas seperti Karl Mark, melainkan didefinisikan dengan habitus. Mahasiswa yang aktif bertanya-menjawab pertanyaan dosen di kelas adalah mahasiswa yang memiliki kelas sosial yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang pasif. Mahasiswa aktif memiliki habitus membaca buku-buku ilmiah, sedangkan mahasiswa pasif membaca komik. Disitulah dikatakan bahwa letak kapital budaya bergantung pada habitusnya.

-                      Reproduksi kelas. Menurut bourdieu adalah dimana satu generasi dari suatu kelas memastikan bahwa ia mereproduksi dirinya dan meninggalkan hak istimewanya kepada generasi berikutnya. orang-orang dari kelas menengah ke atas memberi pendidikan yang tinggi kepada anak-anak mereka, dengan cara menyekolahkan hingga tingkat atas. Mengapa demikian? Agar anak-anak mereka dapat memperoleh sesuatu yang nantinya bisa menjadikan anak-anak mereka tersebut menjadi seperti mereka, yaitu menempati kelas menengah ke atas. Hal tersebut jauh berbeda dengan anak-anak kelas pekerja. Kemudian, anak-anak dari orang-orang menengah ke atas tersebut menjadi penguasa, dan anak-anak dari pekerja mengangggap hal tersebut adalah hal yang wajar, karena pendidikan anak-anak kelas menengah ke atas tersebut cukup tinggi. Oleh karena itu, anak kelas menengah ke atas tersebut dapat sukses dalam sistem pendidikan dan mereproduksi kedudukan sosialnya.
Contoh : orang-orang banyak yang berpresepsi bahwa orang kuliah (mahasiswa) usai wisuda nanti ia pasti mendapat kedudukan sosial yang tinggi, tapi tidak semuanya seperti itu.

-                      Doxa, menurut pandangan Bourdieu adalah kesesuaian struktur mental dan objektif. Pandangannya mengenai Orthodox (berpegang teguh pada peraturan/ajaran resmi) dan Heterodox (menyimpang dari kepercayaan resmi) tidak akan memiliki arti ketika tidak ada pertimbangan alternatif. Bourdieu memperkenalkan kata doxa yang mengacu pada skema-skema pemikiran dan anggapan yang dialami sebagaimana sesuatu yang dialami dan terbukti dengan sendirinya sehingga mereka diterima begitu saja. Doxa terbentuk dari semua sistem klasifikasi yang menetapkan batasan-batasan pola kesadaran sekaligus menghasilkan kesalahan pengenalan atas keberubahan-berubahan yang menjadi dasar mereka.

-                      Praktik, diskusi tentang modal mengantarkan Bourdieu untuk memikirkan tentang praktik sebagai rumusan hasil secara luas yang dapat dikonseptualisasikan baik dalam kerangka individu maupun berbagai kelas. Pandangan bourdieu mengenai metode generatifnya tersebut didasarkan pada presentasi timbal balik antara struktur objektif dan subjektif. Praktik sosial memiliki dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah internalisasi segala sesuatu yang dialami dan diamati dari luar diri pelaku (agents). Dimensi kedua adalah pengungkapan dari segala sesuatu yang telah terinternalisasi dan menjadi bagian dari diri pelaku.

-                      Arena (champ), dalam banyak hal didefinisikan oleh suatu sistem hubungan-hubungan objektif kekuasaan antara posisi-posisi sosial yang berhubungan dan suatu sistem hubungan-hubungan objektif diantara titik-titik simbolis. Konsep arena memang diartikan sebagai suatu arena kekuatan-kekuatan. Konsep ini dibutuhkan untuk menempatkan arena sebagai sesuatu yang dinamis suatu arena yang didalamnya bermacam-macam potensi hadir.

-                      Persaingan dan Strategi, Dalam konsep Bourdieu strategi adalah sesuatu yang mengarahkan tindakan, tetapi ia bukanlah semata-mata hasil dari suatu perencanaan yang sadar dan terkontrol oleh si pelaku atau sebaliknya ia semata-mata hasil dari sesuatu yang mekanis diluar kesadaran individu atau kelompok.
contoh : dalam persaingan mahasiswa untuk mendapatkan IP tinggi, maka ia harus memiliki strategi, misalnya belajar, mengerjakan tugas tepat waktu, kehadiran penuh, dan aktif di kelas kuliah.

-                      Dalam Praktik Penelitian, Salah satu ajaran Bourdieu dalam hubungannya dengan praktik penelitian adalah penekanan pada pentingnya penelitian lapangan. Arena dan habitus bukanlah konsep yang dapat diterapkan hanya dengan duduk dibelakang meja. Keduanya merupakan konsep yang baru bermakna jika digunakan dilapangan.

Contoh : di kelas kuliah Pengantar Sosiologi, para mahasiswa telah mendapat banyak materi dan teori-teori sosial, tapi itu hanya sebatas materi dan teori, tidak akan mendapat efek secara langsung jika tidak terjun lapangan / terjun langsung ke masyarakat sekitar, menerapkan teori-teori yang sudah didapat pada mata kuliah tersebut.






Sumber : Website, Buku

"Teori-Teori Sosial" (Anthony Giddens)

NUR CHOLIFAH (140531100097)
ILMU KOMUNIKASI - C
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA






1.                     Teori strukturasi yang berusaha mencari ”jalan tengah” mengenai dualisme yang menggejala dalam ilmu-ilmu sosial. Ada dua pendekatan yang kontras bertentangan, dalam memandang realitas sosial. Pertama, pendekatan yang terlalu menekankan pada dominasi struktur dan kekuatan sosial. Seperti: fungsionalisme struktural (fungsionalisme: teori yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yang berfungsi. Struktural: berkenaan dengan struktur) yang cenderung ke obyektivisme. Kedua, pendekatan yang terlalu menekankan pada individu (seperti, interaksionisme simbolik, yang cenderung ke subyektivisme).
                        Teori Strukturasi memusatkan pada praktik sosial yang berulang itu yang pada dasarnya adalah sebuah teori yang menghubungkan antara agen dan struktur keduanya. Antara agen dan struktur tidak dapat dipisahkan, menurut Giddens antara agen dan struktur seperti dua mata uang logam. Keduanya memiliki hubungan dwi rangkap. Titik tolak analisisnya adalah tindakan manusia, aktivitas “bukanlah dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial, tetapi secara terus menerus mereka ciptakan-ulang melalui suatu cara, dan dengan cara itu juga mereka menyatakan diri mereka sendiri sebagai aktor di dalam dan melalui aktivitas mereka, agen menciptakan kondisi yang memungkinkan aktivitas ini berlangsung”. Aktivitas tidak dihasilkan melalui kesadaran, melalui konstruksi tentang realitas, atau tidak diciptakan oleh struktur sosial. Dalam menyatakan diri mereka sendiri sebagai aktor, orang terlibat dalam praktik sosial dan melalui praktik sosial itulah baik kesadaran maupun struktur diciptakan. Gidden memusatkan pada kesadaran atau refleksivitas. Dalam merenung (reflexive) manusia tak hanya merenungi diri sendiri, tetapi juga terlibat dalam memonitor aliran terus-menerus dari aktivitas dan kondisi struktural. Secara umum Giddens memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial, struktur, dan kesadaran diciptakan. Jadi, Giddens menjelaskan masalah agen-struktur secara historis, processual, dan dinamis.
                      Dalam The Constitution of Society, Giddens menekankan peran onterpretasi dan sistem makna dalam hidup manusia. Manusia adalah subjek dan pelaku sebagai dualitas yang saling mendukung. Manusia adalah subjek yang aktif dan kreatif. Giddens menolak pendapat bahwa manusia adalah boneka ciptaan aturan-aturan dan struktur-struktur eksternal. Menurutnya struktur berada diluar individu. Struktur memiliki keberadaan yang sebenarnya dalam pola-pola pikir, berisi aturan-aturan dan sumber-sumber (pengetahuan, kemampuan, dan kecakapan praktis) yang diperoleh seseorang melalui sosialisasi. Struktur sebagai medium dan hasil dari tindakan. Struktur menjadi medium karena seseorang tidak dapat bertindak tanpa kemampuan dan pengetahuan yang sudah terbatinkan. Struktur menjadi hasil karena pola budaya yang luas direproduksi ketika digunakan. Strukturalisasi menangkap gambaran tentang hidup sisal sebagai proses timbal balik antara tindakan-tindakan individual dan kekuatan-kekuatan sosial.
                      Menurut teori strukturasi, domain dasar kajian ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman  aktor ataupun keberadaan setiap bentuk totalitas kemasyarakatan, melainkan praktik-praktik sosial yang terjadi di sepanjang ruang dan waktu. Aktivitas sosial memiliki tujuan bahwa aktivitas-aktivitas sosial tidak dilaksanakan oleh aktor sosial melainkan secara terus menerus mereka ciptakan melalui alat-alat yang digunakan untuk mengekspresikan dirinya sendiri sebagari aktor.
1.                        Teori Strukturasi diatas adalah teori yang menepis Dualism. Usaha pertama yang dilakukan Anthony Giddens untuk menyelesaikan persoalan yang dialami oleh ilmu-ilmu sosial adalah melakukan telaah kritik terhadap mazhab-pemikiran yang ada. Ia memulai dari tradisi pemikiran Karl Mark, Emile Durkheim, dan Max Weber. Lalu ia mengarahkan refleksi pada berbagai pemikiran yang sudah menjadi “isme” dewasa ini seperti fungsionalisme Parson, interaksionisme Goffman, Marxisme, strukturalisme Saussure, post-strukturalisme Foucault/Derrida. Lalu, Anthony Giddens mengemukakan kritiknya mengenai Dualisme. Berpandangan dualisme yang terjadi antara agen-struktur terjadi karena struktural-fungsional (struktur berdasarkan jabatan, dilihat dari segi fungsi, secara sepadan), yang menurutnya terjebak pada pandangan naturalistik. Pandangan naturalistik mereduksi aktor dalam stuktur, kemudian sejarah dipandang secara mekanis, dan bukan suatu produk kontingensi dari aktivitas agen. sedangkan konstruksionisme-fenomenologis (susunan-ilmu perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yang mendahului ilmu filsafat atau bagian dari filsafat), yang baginya disebut sebagai berakhir pada imperialisme (penjajahan yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar) subjek. Oleh karenanya ia ingin mengakhiri klaim-klaim keduanya dengan cara mempertemukan kedua aliran tersebut. Dualisme itu berupa perseteruan antara subjektivisme dan objektivisme, voluntarisme dan deter-minisme (paham yang menganggap setiap kejadian atau tindakan merupakan konsekuensi kejadian sebelumnya dan ada di luar kemauan). Yang pertama ialah cara pandang yang memprioritaskan tindakan ataupun pengalaman individu di atas gejala keseluruhan. Yang kedua merupakan kecenderungan sebaliknya. Menurut Giddens, akar dari dualisme itu terletak dalam kesesatan melihat objek kajian ilmu-ilmu sosial. Objek utama ilmu sosial bukanlah peran sosial seperti dalam fungsionalisme Parsons, bukan kode tersembunyi seperti terdapat dalam strukturalisme Levi-Strauss, bukan pula keunikan-situasional seperti dalam interaksionisme Goffman. Bukan keseluruhan, bukan bagian dan bukan pelaku-perorangan, melainkan titik temu keduanya, yaitu “praktik sosial yang berulang serta terpola dalam lintas ruang dan waktu”.

2.                        Pemikiran Habermas, persilangan dari historiche Denken (pemikiran historis) dan utopische Denken (pemikiran utopis). Pemikiran historis mengkritisi pemikiran utopis untuk tidak mengawang melampaui pengalaman konkret-historis. Pemikiran utopis membuka peluang dan ruangan untuk alternatif-alternatif, yang memang diperlukan, agar orang tidak terikat pada kontinuitas sejarah tanpa kebaruan alternatif. Dialektika ini tidak selalu bisa berjalan seimbang. Kadang-kadang orang terjerumus ke dalam utopia berlebihan (seperti Thomas Morus dengan utopia-nya atau Francis Bacon dengan Nova Atlantis-nya). Kadang-kadang orang terjerumus ke dalam realisme historis total dan mengingkari utopia. Baru pada abad ke-20, misalnya dengan munculnya Ernst Bloch dan Karl Mannheim, kecurigaan terhadap utopia bisa “dibersihkan”. Utopia bukanlah lamunan kosong tetapi suatu program alternatif bagi kehidupan yang seharusnya diletakkan dalam proses historis. Kebingungannya terletak disini, apakah ilmu-ilmu sosial dewasa ini tetap mempertahankan dimensi utopis atau malah lebih menengok dimensi historis? apa yang diberikan Anthony Giddens terkait dengan dilema disekitar persolan ini? jika utopia ditinggalkan sama sekali, krisis bukannya hilang, malah makin menghebat. Kita jadi kehilangan cita-cita. “jika oase utopis mengering, akan terbentanglah padang pasir kedangkalan dan kebingungan”, perkataan Habermas. Lalu, Anthony Giddens dituduh sebagai orang yang menyodorkan solusi-solusi utopis bagi dilema yang sangat real. Anthony Giddens menjawab bahwa visinya menganut “Realisme-Utopis”. Maksudnya, suatu pendekatan yang menggambungkan ide-ide utopis dengan trend-trend yang bisa diamati secara empiris. Kita perlu mengantisipasi masa depan. Cara kita mengantisipasi masa depan itu akan membantu kita untuk membentuk masa depan itu sendiri. Karenanya, dengan menarik solusi-solusi yang tampaknya utopis dari gerakan sosial progresif yang sedang terjadi, orang kiranya dapat melakukan perubahan-perubahan yang dulu dikira tidak mungkin.




Sumber : Website, Buku

"Teori-Teori Sosial" (Jacques Derrida)

NUR CHOLIFAH (140531100097)
ILMU KOMUNIKASI - C
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA




1.                  Jacques Derrida dianggap sebagai pendiri ilmu Dekonstruktivisme, yaitu sebuah ajaran yang menyatakan bahwa semuanya di-konstruksi oleh manusia, juga bahasa. Semua kata-kata dalam sebuah bahasa merujuk kepada kata-kata lain dalam bahasa yang sama dan bukan di dunia di luar bahasa. Jacques Derrida dianggap salah satu filsuf terpenting di abad ke 20 dan ke 21. Pada awalnya strategi dekonstruksi ini untuk mencegah totaliterisme (paham yang dianut oleh pemerintahan totaliter dan praktik-praktik yang dilaksanakan)  pada segala sistem, namun akhirnya jatuh kedalam relativisme (pandangan bahwa pengetahuan itu dibatasi, baik oleh akal budi yang serba terbatas maupun oleh cara mengetahui yang serba terbatas) dan nihilism (paham aliran filsafat sosial yang tidak mengakui nilai-nilai kesusilaan, kemanusiaan, keindahan, dsb, juga segala bentuk kekuasaan pemerintahan, semua orang berhak mengikuti kemauannya sendiri).
            Istilah dekonstruksi untuk pertama kalinya muncul dalam tulisan-tulisan Derrrida pada saat ia mengadakan pembacaan atas narasi-narasi metafisika Barat. Jacques Derrida menunjukkan bahwa kita selalu cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya. Satu term (istilah) tertentu kita lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna final. Inilah yang Derrida sebut sebagai logosentrisme. Teori ini mengkritik keseluruhan dari filsafat barat. Menurut Derrida, penolakan ini harus dilakukan karena adanya penjarakan (spacing), di mana apa yang dianggap sebagai petanda absolut sebenarnya hanyalah selalu berupa jejak di belakang jejak. Selalu ada celah atau kesenjangan antara penanda dan petanda, antara teks dan maknanya. Celah ini membuat pencarian makna absolut mustahil dilakukan. Setelah “kebenaran” ditemukan, ternyata masih ada lagi jejak “kebenaran” lain di depannya, dan begitu seterusnya.

2.                  Pada tahun 1987, Derrida mengeluarkan kumpulan esainya dalam teks yang berjudul Pshyche. Dasar dari risalat ini adalah untuk menyatakan seberapa besar kemungkinan untuk membicarakan (yang Lain). Menurut Derrida, sikap yang tepat terhadap (yang Lain) adalah menunggu, menginginkan, dan bersiap bagi masa depan, yaitu dari mana (yang lain) itu berasal (Yang Lain) tidak berasal dari masa kini. Untuk menjelaskan mengenai sikap menunggu dan bersiap, Derrida kembali mengutip dari tulisan sebelumnya yang berjudul structure dan Sign and Play. (Yang Lain) itu datang sebagai bencana, tidak peduli baik atau buruk, kedatangannya akan terlalu asing untuk dihasilkan oleh realita.
            Contoh : saya menginginkan berlanjut S2 di Harvard University jika saya sudah lulus dari Universitas Trunojoyo Madura ini. Saya menginginkan kuliah disana (Harvard University), saya menunggu saat itu tiba. selagi saya menunggu, saya menyiapkan diri saya sebaik mungkin agar saya layak untuk kuliah disana, dengan cara saya akan terus belajar supaya saya lulus dari sini (UTM) dengan nilai yang sesuai dengan target saya, dan saya juga terus belajar supaya nilai TOEFL dan IELST saya cukup saya gunakan untuk melanjutkan kuliah di Harvard University, saya juga banyak belajar berorganisasi supaya saya memiliki bekal keorganisasian yang membanggakan. Kesimpulannya, Saya menginginkan suatu hal (berlanjut S2 di Harvard University), saya menunggu saat yang tepat, dan saya menyiapkan diri saya untuk menyambut hal tersebut yaitu dengan berbagai cara (belajar banyak hal dengan sebaik mungkin). Saya akan berjuang sebaik mungkin agar diri saya pantas berkuliah disana. Jika usaha saya sudah matang keseluruhan, maka saya pun telah bersiap untuk menerima hasilnya nanti. Saya tak peduli baik atau buruk hasil tersebut karena saya telah melakukan keseluruhannya dengan sangat baik sesuai dengan kemampuan saya (maksimal).

3.                  Kemudian, Derrida (dalam karyanya Margin of Philosophy) mengatakan bahwa “dibalik teks filosofis yang terdapat bukanlah kekosongan melainkan sebuah teks lain, suatu jaringan kekuatan-kekuatan yang pusat referensinya tak jelas”.

4.                  Dalam karya yang lain “positions” secara skematik teori dekonstruksi Derrida terdiri dari 3 langkah, pertama mengidentifikasi hieraki (urutan tingkatan) oposisi dalam teks yang biasanya terdapat peristilahan yang diistimewakan secara sistematik (susunan). Kedua oposisi-oposisi tersebut dibalik dengan menunjukan adanya saling ketergantungan diantara yang saling berlawanan itu sekaligus mengusulkan privilese (hak istimewa) secara terbalik. Ketiga memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang tidak bisa dimasukan dalam katagori lama.

5.                  Bila bahasa dilihat secara struktural, bisa disimpulkan bahwa bahasa bisa ada karena adanya sistem perbedaan (system of difference), dan inti dari sistem perbedaan ini adalah oposisi biner (binary opposition). Seperti, oposisi antara penanda/petanda, ujaran/tulisan, langue/parole.
            Oposisi biner dalam linguistik ini berjalan seiring dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, seperti: makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/ imanen, baik/buruk, benar/salah, maskulin/feminin, intelligible/ sensible, idealisme/ materialisme, lisan/tulisan, dan sebagainya.
            Dalam oposisi biner ini terdapat hirarki. Yang satu dianggap lebih superior dari pasangannya. Misalnya, jiwa diangap lebih mulia dari badan, rasio dianggap lebih unggul dari perasaan, maskulin lebih dominan dari feminin, dan sebagainya. Dalam linguistik Saussurean, lisan (ujaran) dianggap lebih utama dari tulisan, karena tulisan dipandang hanya sebagai representasi dari lisan.

            Derrida, seperti banyak teoritisi kontemporer Eropa, asyik berusaha membongkar kecenderungan oposisional biner yang mewarnai sebagian besar tradisi filsafat Barat tersebut. Dekonstruksi Argumen mereka adalah kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental (makna, kebenaran). Sedangkan kata-kata tertulis –sebagai sekadar representasi dari ujaran– hanyalah turunan kedua, atau sekadar simbol dari simbol yang sudah ada (ujaran) tersebut.






Sumber : Website, Buku