Translate

Kamis, 23 Juli 2020

Lirik Lagu Before You Go - Lewis Capaldi

I fell by the wayside like everyone else
I hate you, I hate you, I hate you, but I was just kidding myself
Our every moment, I start to replace
'Cause now that they're gone, all I hear are the words that I needed to say
When you hurt under the surface
Like troubled water running cold
Well, time can heal, but this won't
So, before you go
Was there something I could've said to make your heart beat better?
If only I'd have known you had a storm to weather
So, before you go
Was there something I could've said to make it all stop hurting?
It kills me how your mind can make you feel so worthless
So, before you go
Was never the right time, whenever you called
Went little by little by little until there was nothing at all
Our every moment, I start to replay
But all I can think about is seeing that look on your face
When you hurt under the surface
Like troubled water running cold
Well, some can heal, but this won't
So, before you go
Was there something I could've said to make your heart beat better?
If only I'd have known you had a storm to weather
So, before you go
Was there something I could've said to make it all stop hurting?
It kills me how your mind can make you feel so worthless
So, before you go
Would we be better off by now
If I'd have let my walls come down?
Maybe, I guess we'll never know
You know, you know
Before you go
Was there something I could've said to make your heart beat better?
If only I'd have known you had a storm to weather
So, before you go
Was there something I could've said to make it all stop hurting?
It kills me how your mind can make you feel so worthless
So, before you go..

Jumat, 03 Juli 2020

AKU



Aku dilahirkan dari rasa hancur dan kecewa, lalu diadopsi sebentar oleh kebahagiaan, dan kini aku dimuntahkan menjadi rasa sesal.
Aku terbentuk dari bias rasa sayang yang lalu didampingi bosan dan putus asa. Aku tumbuh besar menjadi sebuah pedih dan akhir yang memuakkan.
Aku kelam dan sendirian.
Aku tangis dan kesedihan.
Aku hidup segan mati tak mau.
Dibunuh paksa oleh rasa acuh dan tak mau tahu. Sekian. Aku berterimakasih padamu.

Minggu, 21 Juni 2020

Menikah

Kau mau membahas judul ini bersamaku?
Syaratnya mudah, duduk di sampingku dan genggam tanganku. Tatap aku, sampaikan bahwa kau mencintaiku.

----

Menikah bukan soal usia, bukan pula soal keinginan semata, atau malah Trend kekinian yang sedang dilombakan banyak orang.
Menikah urusan kesiapan untuk kehidupan baru, kehidupan bersama satu orang, itu, itu, dan itu saja.

Sebentar, kau masih menatapku kan?

Menikah denganku, tak hanya tantangan sebuah kesiapan diri. Tak hanya disebut menjalani hidup baru. Tapi lebih kompleks daripada itu. Aku mengajakmu merangkak ke memori kita berdua. semoga kau masih kuat mengingatnya. Semoga kau sungguh-sungguh membaca ini.

---

Kali pertama mengenal, hanya sekadar tahu siapa dirimu, di Universitas itu.
Kau mungkin tak tahu siapa aku.
Berbekal postinganmu di salah satu Grup Prodi itu, kau geram melihat komentarku, iya kan? Tak perlu kusebut lagi betapa aku juga sangat kontra dengan gayamu yang sok idealis dibungkus perfeksionis.
Soal perdebatan, kau cukup handal. Tapi kau lupa bagaimana cara bangun dan merawat citra. Aku memaklumi, mahasiswa se-kaku dirimu memang seperti itu, Wahai seniorku.
Kembali ke perkataanku tadi, kau geram setiap membaca komentarku yang mungkin bagimu aku sedang menjilat pantat orang-orang itu, kan? Bagaimanapun, aku hanyalah anak tadi siang yang bertingkah picik menyambut postinganmu.

---

Akun Instagramku yang kugunakan untuk menjual jasa dan produk ternyata memiliki fungsi lain, menemukan orang-orang yang relate dengan follower. Tak sengaja kulihat namamu, seketika kumengingat "Kau rupanya orang itu!!! Si idealis!!!".
Mental detektifku muncul, kuberanikan klik akunmu. Kutemukan sesuatu. Blogger!

---

Sama sekali aku tak tertarik memulai hubungan dengan siapapun di dunia maya, kecuali dengan seseorang yang telah berhasil merobek-robek kepercayaanku 2017 silam. Kau menyerobot masuk tanpa Assalamu'alaikum dan tiba-tiba menjadi sesosok makhluk yang kukagumi. Bagaimana tidak kak, mengetahui kau suka menulis Blogger, kumulai berani menyapamu. Anganku sebatas apakah mungkin aku perempuan pertama yang berani melempar sapa terlebih dahulu, ataukah mungkin sebelum ini sudah banyak perempuan yang berani menyapamu Kak? Haha kau cukup populer, Kak.

---

Mengirim-Membalas pesan-langsung yang tersedia di fitur Instagram membuat hari-hariku terasa sedikit mengasyikkan, smoga kau melewatkan membaca kalimat ini. Hihi
Seringkali bertukar pendapat dan pandangan yang membuat pembicaraan virtual menjadi ngalor-ngidul haha-hihi'ku di kamar kosan sambil menatap tugas kuliah di dalam layar.
Tak lama, kita saling bertukar kontak pribadi.

---

Kau memang menyebalkan, sangat menjengkelkan. Semua kau bungkus epic dengan kelucuanmu. Menarik!
Kumau tahu, apa yang ada di pikiranmu waktu itu? Pernikahan? Hahaha

---

Senang berbagi hal-hal sepele denganmu, kaupun menanggapinya. Terbesit fikiran, mengapa ada makhluk Tuhan macam kita berdua? Hahaha
Penuh dengan trauma-percintaan, hari-hariku kau buat sedemikian indah, Kak. Terima kasih ya? 🙂

---

Tumbuh rasa yang entah itu apa, tak mungkin mahasiswi yang belum menyelesaikan skripsiannya berani berterus-terang padamu, Kak. Mengulur waktu sambil terus memperhatikan gerak-langkahmu. Se-rinci itu!
Kau menyiram air panas di atas kepalaku malam itu ketika aku hendak memberitahumu sesuatu. Ya! Seseorang yang lain telah memilikimu.
Aku bersama kekasihku, dan kaupun juga.. telah memiliki seseorang itu.
Sampai sini, dimana kah hatimu?

---

Beberapa bulan berlalu, kita meninggalkan cerita kita masing-masing. Tapi tidak dengan kegilaan.
Hey! Kau! Otak mutasi ke tulang belakang! tolol tembus DNA dan RNA! Aku mencintaimu!

---

Tanggal delapan bulan delapan tahun dua ribu delapan belas, hari sabtu. Ruang tamu rumahku berisikan kamu, Kak. Berani-beraninya kau menemuiku dan ayah-ibuku. Se-tebal itu urat beranimu, Kekasihku!
Alun-alun kota sidoarjo menjadi saksi kala kau berkata "Terima kasih telah menyelamatkanku" sambil tertawa tipis.
Maksudmu, kau bisa merokok semaumu kan disitu? Hhh.. laki-laki.

---

Tanggal dua puluh bulan dua tahun dua ribu dua puluh, kau memenuhi ucapanmu, datang ke rumahku beserta rombongan keluargamu. Apakah.. saat itu.. kau telah meyakinkan dirimu.. bahwa kau mencintaiku??
(Pertanyaan yang selalu berputar di atas kepalaku).

---

Tanggal tiga belas bulan enam tahun dua ribu dua puluh, kuarak keluargaku menginjakkan kaki di rumahmu, menegaskan kapan kau akan menikahiku?
Sesingkat itu kuyakinkan diri ini bahwa aku telah luluh se-luluh-luluhnya atas nama cinta.
Kita semua menyepakati tanggal resmi kita, diaamiini belasan orang yang hadir. Senyum rekah menghiasi siang hari itu, langit cerah melihat kebahagiaan keluarga kita.
Apakah kau sungguh mencintaiku, Kak?
(Masih pertanyaan yang sama).

---

Tiada malam tanpa merindukanmu, bagaimanapun, kuingin tahu, bagaimana jika kau merindukanku? Senikmat martabak jamur yang kita santap malam hari di Kota Jombang waktu itu? Atau lebih nikmat lagi tahu-telor yang kau belikan untukku?
Aku merindukanmu, kau yang banyak diam, kau yang banyak menatap ponselmu, kau yang banyak melatihku berjalan penuh kemandirian.
Kau mungkin lupa bahwa kau tak suka perempuan mandiri, didik aku agar kau menyukaiku, Dan jangan kau ajarkan aku untuk terbiasa dengan 'mandiri' yang kau ciptakan itu.
Apakah kau mencintaiku?
(Masih dengan pertanyaan yang sama).
Yakinkan kembali, apakah kau mencintaiku?

---

Menikahiku artinya adalah kau siap menanggung aku dan perasaanku. Artinya adalah kau siap memberikan seluruh hidupmu untuk membahagiakanku. Artinya adalah sebuah kesiapan besar untuk hal-hal berat yang harus kita genggam bersama. Artinya adalah kau siap mencintaiku seutuhnya selamanya dan satu-satunya. Apakah kau mencintaiku? Apakah kau mencintaiku? Apakah kau mencintaiku?

---

Aku telah mencintaimu, dan selalu mencintaimu. Sejak hari itu, detik ini, hingga selamanya.

Sudah malam, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membahas judul ini bersamaku. Kau butuhkan cukup istirahat, Kasihku. Sleep tight..

Minggu, 31 Maret 2019

My Future Family

Kelak kuingin kita berbincang..

"eh bunda, besok kita jadi kan jenguk kakak di pondok" (tanyamu padaku).

Lalu adik ikut menjawab "bunda.. yanda.. adik ikut ya. Adik rindu kakak, rindunya banyak". Merayumu dan aku, sambil ia pamerkan gigi ompongnya yang belum tumbuh.

"Yanda dan bunda ajak adik, asal adik janji hafalan juz 30'nya harus selesai di minggu ini, ya?" Jawabku sambil cium pipi anak kedua kita.

Lalu kau memelukku, memeluk anak kedua kita. menarik selimut hingga dadaku, berbisik "aku mencintaimu istriku"

Esok hari, Kita menyiapkan banyak sekali apa apa yang hendak kita bawa. Adik membawa tas kecilnya dan tak lupa mini-qur'an selalu ia buka dan baca dimanapun dia berada.

Aku membawa kantong plastik besar berisi makanan penuh, di tangan kanan-kiriku, sambil terus meminta padamu apa lagi yang bisa kubawa.

Kau menertawaiku sambil berlalu.. membawa apa apa yang lebih berat dan banyak. Kau berkata "aku kan kuat sayangku"

"Iya sayang kuat, kan herymau" candaku sambil kucium pipimu.

"Harimau sayangku" jawabmu sambil mencium keningku.

"Bunda curang, cuma cium yanda, kan adik juga kuat kayak yanda, cium adik juga dong bunda" rayu adik sambil berlari menghampiriku.

Kuciumi pipi kanan-kirinya, kening, dagu, hidung, bibir, kedua tangannya. "Adik dapat cium dari bunda lebih banyak daripada yanda loh"

Kita mulai berangkat jenguk anak pertama kita di sebuah Pondok Pesantren di Jombang.

"SUBHAANALLADZII SAKH-KHORO LANAA HAADZAA WA MAA KUNNAA LAHU MUQRINIIN WA INNAA ILAA ROBBINAA LAMUN-QOLIBUUN", kau pimpin aku dan anak kedua kita membaca doa naik kendaraan bersama sama.

Selamat pagi, Semoga kau membaca Tulisanku pagi ini. Hihihi

Selasa, 05 Maret 2019

Sujiwo Tejo - Sugih Tanpo Bondo (Lirik)



Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng
tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng
Langgeng
tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng
Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng
tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng
Langgeng
tanpo susah, tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng

Sabtu, 09 Februari 2019

Mungkin

"If you expect the unexpected doesn't that make the unexpected expected."

----


"Hidup segan, mati tak mau. Eeeh dimana Tuhanmu? Kamu hari ini belum nemuin dia. Pantesan". Melongo ke luar jendela. Pagi yang cerah.

Kepala memutar 90 derajat. Ada buku catatan harian di atas etalase buku, di kamar, yang dari semalam dipeluk erat berbonus tangisan. Perempuan muda!

Buku itu.. covernya terlihat lusuh. Ada bekas coretan yang tak jelas itu kalimat apa. Memang sudah bertahun-tahun menemani si Penulis. Waktunya di recover ya?

"Terasa sesak ya? Em.. lumayan. Kau harusnya lebih tangguh lagi dalam memelihara hatimu". Tersedak teh hangat yang sedang diseruputnya, menyambut pagi.

Hari ini hari minggu. Besok hari senin. Ada sesuatu yang menghantui isi kepalanya. Terasa seperti jiwanya tidak berada di pekerjaan yang saat ini ia telateni. Parah!

Mau berbicara passion, masih kerdil. Tatanan pola pikirnya tiba-tiba berubah seperti bocah yang baru masuk di Taman Kanak-Kanak.

Memandangi permukaan gelas teh. Perempuan itu tidak tahu harus bagaimana. Sebetulnya dia tahu.



----



Ayahnya, baru kemarin dinyatakan dokter boleh pulang ke rumah setelah enam hari rawat inap di Rumah Sakit Umum. Lebih tepatnya, rawat inap yang ke-dua kalinya.

Ibunya, sering berbisik esok mau dimasakkan apa.

Adik tertuanya, alat terpenting miliknya rusak. Waktunya beli baru, untuk lanjutkan studinya.

Kekasihnya, sedang ada urusan lain.

Pemandangan luar jendela nampak menghijau, ada sedikit genangan air sisa hujan semalam. Kicauan burung nampak menghiasi hari. Burung-burung dalam sangkar, milik tetangga.

Aku tidak sedang menangis. Manusia tangguh! Semoga Tuhan meridhoi. Selamat pagi. Selamat hari minggu.


----


"But perhaps you hate a thing and it is good for you, and perhaps you love a thing and it is bad for you."

[ Quran 2:216 ]

Senin, 28 Januari 2019

Broken - Lund (Lyrics)

Will you end my pain?
Will you take my life?
Will you bleed me out?
Will you hang me out to dry?
Will you take my soul in the midnight rain?
While I'm falling apart
While I'm going
Will you end my pain?
Will you take my life?
Will you bleed me out?
Will you hang me out to dry?
Will you take my soul in the midnight rain?
While I'm falling apart
While I'm going insane
Can you break my bones?
Will you tear my skin?
Can you taste my lust?
Can you feel my sin?
See, I'm a waste of life, I should just kill myself
Yeah, I could slit my wrists, but it really wouldn't help
Wouldn't fix my issues, or change your mind
'Cause I broke your heart and you buried mine
Now, I'm six feet deep and I can't breathe
I got dirt in my eyes and blood on my sleeves
But I dig my way up through these roots and leaves
So I can get some air, so I can finally breathe
And now I'm on my knees, oh baby, begging please
Will you
Will you
Will you end my pain?
Will you take my life?
Will you bleed me out?
Will you hang me out to dry?
Will you take my soul in the midnight rain?
While I'm falling apart
While I'm going
Will you end my pain?
Will you take my life?
Will you bleed me out?
Will you hang me out to dry?
Will you take my soul in the midnight rain?
While I'm falling apart
While I'm going insane
Don't you miss me when I'm gone
'Cause you're the fucking reason that I'm not around
Don't you miss me when I'm, miss me when I'm gone
'Cause you're the fucking reason that I'm not around
Fucking reason that I'm not around
Bitch, you're the fucking reason that I'm not around