Translate

Senin, 04 Agustus 2014

Merah Hitam, lalu menjadi Abu-abu.



Aku melihat setitik cahaya,
Makin ku mendekat,
Makin menyilaukan mata,
Indah, terang, bersinar.
Ku coba meraihnya,
Sialnya kaki ini tersandung,
Aku tersungkur,
Angin membangunkan raga ini,
Aku tegak, namun rapuh.
Ranting pohon menuntunku,
Mengantarkanku pada cahaya itu.
Aku berlari.
Dedaunan membukakan jalan untukku,
Ya! kini aku meraihnya.
Cahaya itu!
Matahari enggan menampakkan diri,
Karena ia tahu, cahaya ini lebih terang daripada sinarnya.
Lebih berkilau daripada sinarnya.

-------- -------- -------- -------- --------

Sunyi, gelap, beraromakan kepedihan.
Merangkai kepingan, bukan logam, lunak namun hidup.
Ketika luka diteteskan antiseptik, lalu dibelitkan perban.
Perih, namun sedikit membaik.
Ketika luka dibelitkan perban, lalu terdiam.
Sakit, namun jauh membaik.

-------- -------- -------- -------- --------

Tak bertahtakan berlian, tetap indah.
Tak berlapiskan marmer, tetap indah.
Tak berderetkan mutiara, tetap indah.
Dilontarkan jauh ke angkasa, kembali.
Dihanyutkan hingga ke dasar lautan, kembali.
Dikubur amat dalam pada tanah, kembali.

-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------

Di tengah terik yang menghanguskan separuh jiwa ini,
Ku mulai berjalan melewati setapak tanah kering kerontang.
Ku langkahkan kaki dengan pasti, "Tuhan, aku ingin berubah!"
Kicauan burung menenangkanku.
Ku menangis, teriak, tertawa, berputar, bersimpu.
Terlalu banyak hal yang membuat air mata ini tersudut di ujung mata.
--------
Tuhan, aku bahagia tlah mengenal namanya.
Aku pun tlah melihat sosoknya, meski hanya melalui media sosial.
Tuhan, aku ingin bertemu dengannya.
Izinkanlah aku menatap sosok itu dengan seluruh indahnya.
Ku ucapkan bait-bait doa'ku pada Tuhan.
Angin melewatiku, seakan-akan ia berkata "Amin!"
--------
Hari berganti, ku tetap terngiang akan sosok itu.
Rasa penasaran ingin segera berjumpa tak henti-hentinya menyiksa batin ini.
Lelaki mungil, rupawan, dan asik tuk diajak berbincang.
"Tuhaaaaan! aku ingin menatap indahnya sosok itu!"
Keesokan harinya kami tetap berbincang di media sosial.
senandung bahagia tak henti-hentinya ku bertanya "Siapa dia?"

-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------

Kami berteman. kami berbagi tawa, duka.
Tetap menikmati hari dengan jalan masing-masing.
Hari-hari berikutnya ku rasa ada sedikit perubahan.
Mulanya ia yang sedikit kaku, terkesan cuek, kini menjadi lebih baik.
Berbincang dengannya amatlah lucu, membuat seluruh isi perutku terlontar keluar.
"Tuhan! aku menemukan kebahagiaanku lagi!", seru'ku dalam hati.
--------
Ku bahagia tlah mengenalmu, Teman baru'ku.
Ku bahagia mendapatimu dengan perubahan.
Namun ada sedikit yang berbeda, ntahlah!
Ku bertanya pada Bulan di keheningan malam,  Bulan mendiamkanku.
Ku berkaca, "Tuhan! lihatlah betapa bingungnya aku ini!"
Ku bersyukur pada Tuhan, karena Tuhan tlah memberiku kebahagiaan baru.
--------
Ya Tuhan! hatiku masihlah tertutup awan mendung.
"Sejujurnya hati ini masihlah milik sosok di masa lalu", teriakku frustasi.
Air mata ini membenarkan.
Iya, aku masih mencintai orang itu, mantan kekasihku.
Beribu kali tak henti ku memohon pada Tuhan, "Ya Tuhan! bantulah aku 'tuk melupakan lelaki masa lalu'ku!"
Bulan berbisik, "Cobalah membuka hatimu untuk yang lain!". ku tersenyum.
--------
Setiap hembusan nafas, ku berdoa pada Tuhan,
"Ya Tuhan! bantu lah aku untuk menemukan hidupku lagi, bersama yang lain!"
Ntah apa maksud Tuhan, tiba-tiba muncul pesan singkat di layar hape.
Pesan singkat darinya, Teman baru'ku. "Mlm.." begitulah isinya.
Hatiku tersentak, "Semoga KAMU bisa menggantikannya di hatiku, Teman!", gumamku bersemangat.
Lalu kami saling berbalas pesan.
--------
Hari berganti, ku dan dia masihlah sering berbincang lewat pesan singkat.
Dia temanku! yang membangkitkan semangatku.
Ku berharap semoga dia selalu menemaniku dalam canda ataupun pilu.
Bintang-bintang bergandengan, mereka berseru "We Wish You're Lucky Girl!"
Dengan bersemangat ku jawab "Amin!"
Semoga Tuhan tetap menjaga kebahagiaanku kala itu bersamanya, Teman baru'ku!

--------
--------

Malam itu, kami berencana bertemu. Betapa bahagia nya hati ini.
"Tuhan! semoga dengan ini aku bisa melupakan sosok masa laluku!", ucapku dalam hati.
Ku berjalan di keramaian malam.
"Tuhan! semoga ia lelaki yang baik, yang bisa menemani hari-hariku 'tuk melupakan masa laluku!", gumamku.
Ku lanjutkan berjalan, bintang-bintang tersenyum menatap langkahku.
Sampailah 'ku di tujuan, tempat pengisian bahan bakar.
--------
Kaki melangkah bak irama jazzy, perlahan namun pasti.
Jantung berhenti berdetak ketika dua bola mata ini menatap malaikat Tuhan.
"Ya Tuhan! apakah itu dia?", teriakku dalam hati.
Tetap melangkah, namun berbeda irama, kini langkahku berirama Hardrock. Kasar, sedikit tak beraturan.
Ku terhenti tepat di depan tempat sembahyang.
Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku.
--------
tak tak tak....... Terdengar ada yang mendekat. Ku beranikan menoleh, "Tuhaaaan! dia datang!"
"Kamu?", tanya'nya dengan pola tingkah yang terlihat seperti orang gugup.
"Iya!", jawabku sambil menjulurkan tangan 'tuk bersalaman.
Dia menjawab tanganku.
"Berangkat sekarang?", tanya nya lagi.
"Ok, ayooo!", jawabku dengan tersenyum.
--------
Itulah pertama kali kami bertemu, tak ku duga parasnya berbeda dengan foto di media sosial.
"Tuhan! dia teman hamba yang sudah beberapa hari menemani hamba".
Ku bahagia, melompat tinggi ke angkasa, ku bertemu sekumpulan awan, mereka bahagia melihatku.
Kami berbincang di sepanjang perjalanan menuju pasar malam.
"Tuhan! tlah lama ku tak berkunjung ke pasar malam", bisik'ku dalam hati.
Pasar Malam, hmmm.... dua kata yang benar-benar mengingatkanku pada sosok masa laluku.
--------
Kami berjalan menikmati pasar malam kala itu.
Berbeda, tak seperti pasar malam yang biasa ku kunjungi bersama mantan kekasihku.
Ku mencari sesuatu yang sudah menjadi teman setiaku, Kembang Gula.
Ku mendapatkannya, ia membelikannya untukku.
"Terima kasih Ya Tuhan! Terima kasih Teman!", gumam bahagiaku.
Indahnya pasar malam, sungguh terasa lengkap dengan 2 hal, "Kembang Gula" dan "Seseorang Yang Menemaniku".
--------
Kami duduk di bibir sungai, menikmati angin malan dan indahnya bintang-bintang di langit.
Kami bercerita tentang apapun yang telah kami lalui dalam hidup.
Tak henti-hentinya ku tatap paras tampan nan rupawan itu.
"Tuhan! apakah aku Jatuh Cinta?", tanyaku dalam hati dan dua mata ini tetap tertuju padanya.
Begitu pilu mendengar sebait ceritanya tentang mantan kekasihnya.
Hatiku tersayat, ingin kedua tangan ini memeluknya sembari berkata "Tenanglah! ada aku disini!".
--------
Ku buka bungkus Kembang Gula, ku tawarkan secuil untuknya, ia menolak.
"Tak suka Kembang Gula?", tanya'ku. "Iya", jawabnya sambil tertawa kecil.
Seketika ku benar-benar teringat dengan mantan kekasihku, dia pun tak menyukai kembang Gula.
Air mata hendak menetes, ku gugurkan. "Tuhaaaaaan! kuatkan hati hamba!", pintaku pada Tuhan.
Kami berlanjut bercerita. tentangnya dan tentang masa kecilnya.
"Lelaki pemberani, namun hobby Menggalau-ria", ejek'ku padanya.
--------
Malam terasa semakin dingin, jam pun sudah menunjuk angka 9.
"Ayo pulang! sudah malam", kata'ku bersemangat.
Jari-jari ini lengket terbalut manisnya kembang gula yang setengah bungkus habis ku lahap sendirian.
"Cuci tanganmu di Mushollah itu!", ucapnya lembut.
"Tak perlu, begini saja sudah bersih!", jawabku sambil membersihkan jari-jari dengan butiran embun.
Dia tersenyum melihat tingkahku, mungkin aku adalah wanita aneh yang pernah ia temui.
--------
Kami melaju di atas motor miliknya.
Angin menemani kami hingga kedua roda'nya terhenti di depan Gang rumahku.
Kami bersalaman, mengakhiri pertemuan malam itu.
"Terima kasih Ya Tuhaaaan! Engkau telah mengabulkan doa hamba!"
Hatiku melambung ke awan, aku bahagia.
Sampai berjumpa lagi, Teman! mungkin aku akan sangat merindukan pertemuan itu kembali.
--------
Aku takjub akan sosoknya.
Aku kagum akan kepribadiannya.
Aku nyaman dengan pola tingkahnya.
Aku bahagia mengenalnya.
Aku beruntung menjadi temannya.
Aku ingin selalu berada dekat dengannya.
--------
Tuhan memanglah baik padaku,
Hingga hari-hari selanjutnya pun kami tetap berbagi tawa, lewat pesan singkat.
Hubungan pertemanan kami masihlah se-Konyol biasanya.
"Aku bahagia Ya Tuhaaaaaan! Terima kasih Engkau menghadirkan sosok teman sepertinya!", ucapku beruntung.
Dia lucu, apa adanya, terkadang gila, terkadang menjengkelkan, ramah, sopan, dan ITULAH DIA!
"Dia sedikit berbeda dengan yang lain, Tuhan! apa yang kini ku rasakan?", tanyaku pada Tuhan.
--------
Suatu ketika aku tersadarkan oleh bisikan angin malam, "Ingatlah kebodohanmu Yang Telah Berlalu!"
"Sungguh pandai dirimu ingin mengulang kesalahan yang sama!", bisik Bulan dengan tawa yang menyakitkan.
Aku wanita lemah, tak sepantasnya aku berharap pada sosok yang amat Istimewa itu.
Perlahan-lahan ku ubah perasaanku,
Aku takut terjatuh LAGI.
"Tuhan! aku harus berhati-hati membawa perasaan ini!", gumamku gelisah.
--------
Hingga suatu hari ia menegurku, menegur atas perubahanku.
Aku tak bermaksud buruk atau ingin menjauhimu, Aku hanya ingin bertingkah sepantasnya.
Menjaga hati ini agar tak terlalu berharap akan sesuatu yang sulit ku dapat.
Namun aku tak mampu menjelaskan hal itu padamu.
Hanya sanggup ku lantunkan candaan konyol yang bisa tepiskan kegaduhan hatimu kala itu.
Maafkan aku! aku hanya ingin NETRAL terhadapmu.
--------
Langkah lambat 'tuk mengoreksi diri ini,
Tanya perlahan 'tuk mengoreksi diri ini,
Tak seharusnya ku begini. ku menyalahkan kebodohanku lagi.
Ku coba kembali menjadi aku yang sebenarnya. Kami kembali seperti biasa, gurau bersama.
Dia bukan hanya sekadar teman, tapi dia adalah SAHABAT.
Kami meramaikan hari-hari dengan saling berkirim pesan, juga aktif di media sosial.
--------
--------
--------
--------
Matahari tetap memancarkan sinarnya.
Berbeda dengan kami, aku merasa hubungan kami sedikit terasa jauh.
Berbincang pun terasa seperti terbatasi.
Tlah jarang kami saling berkirim pesan singkat.
Aku mencari, ntah apa yang ku cari.
"Bukankah ini yang kau mau?", Kupu-kupu menghampiriku dan tertawa puas.
--------
Ku berdoa pada Tuhan!
"Ya Tuhan! kembalikan Sahabatku! kembalikan ia seperti sedia kala, yang selalu menemaniku."
Matahari pun menertawakanku.
"Tuhaaaaan! Aku sadar aku Membutuhkannya!", jerit tangisku terdalam.
Beberapa hariku terasa sepi. Ku tetap bersabar menunggu ia menghampiriku.
"Ada apa denganku yang mulai konyol ini?", tanyaku pada cermin.
--------
--------
--------
--------
Siang yang amat terik, ku sempatkan diri aktif di media sosial.
Hatiku tercabik-cabik melihat sebuah status dari sahabatku itu.
Ntah mengapa ku tak sanggup berkata apapun.
"Ini sungguh perih Ya Tuhaaaaan!", teriakku dalam batin.
Aku marah, kecewa, sedih, tak percaya.
Terasa seperti belasan Belatih menancap tepat di jantung hati.
Detik itu pun ribuan malaikat turut berkabung pilu bersamaku.
Menyebalkan adalah ketika aku tak mampu mengehentikan butir-butir air mata ini.
"Ya Tuhan! betapa sakitnya!", tangisku sendiri.
Sehelai sapu tangan menemani menit-menit menyebalkan itu.
"Aduhay! mengapa aku menangis?", sadar'ku perlahan.
"Parahnya aku ini!", tawa'ku.
"Tak sepantasnya begini!", Gumam'ku berlanjut.
"Sudahlah! apa daya'mu menangis?", fikir'ku menyambut.
Angin menari-menari di sekelilingku.
Ku bertanya sambil mengusap pipi yang basah ini, "Angin, apakah harimu menyenangkan?"
Angin menjawab dengan senyuman riang, "Tentu saja!".
Ku hanya bisa terdiam, mengulum bibir.
Angin mengagetkan, "Hey anak Adam, betapa tololnya dirimu! hahahaha"
Aku bangkit, berdiri tegak, menepis angin.
"Tuhan! kuatkan hamba! sekali lagi hamba memohon, Kuatkan hamba!".
Ku berlari pulang, berusaha menerima kenyataan,
Dia sahabatku, tlah menjadi milik wanita itu.
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
Ku sadar, SEHARUSNYA dan SEPANTASNYA aku turut berbahagia atas Peristiwa Bahagia sahabatku.
Aku mencoba dan TERUS mencoba.
Ku tatap awan, "Semoga kamu berbahagia dengan wanita pilihan hatimu, kawan!".
Belasan burung di langit melewatiku seraya berseru "Amin!".
Dua kaki ku terasa lemah. Terjatuh lemas, terbalut kalut sedih pilu.
"Ya Tuhaaaaaan! Kuatkan aku!".
--------
Aku masihlah menganggap dia sahabatku.
Bukankah angin tlah menyadarkanku.
"Ya Tuhan! bantu lah hamba untuk Ikhlas! amin!", gumam'ku.
Deretan semut berjajar memperhatikanku, mereka tampak lucu, ku tersenyum.
"Tenanglah! dia tetap sahabatmu!", ucap salah satu semut menegarkan aku.
Ku tersenyum, menahan pilu. mencoba menyembuhkan luka'ku sendiri.
--------
Ku menyebutnya kuasa Tuhan.
Memanglah! sungguh!
Kala itu hidupku amatlah menyedihkan,
Bak disodorkan tagihan pembayaran oksigen,
Oksigen yang ku hirup hingga detik ini.
Sulit ku gambarkan. benar-benar abstrak namun nyata.
--------
Ku tetap mencoba menerima kenyataan.
Dia tlah menjadi milik orang lain.
Memang ini 'sedikit' menyakitkan,
"Kenapa aku ini???", tanyaku kesal.
Terkadang air mata'ku masihlah menetes ketika mengingatnya.
"Terima kenyataan ini! Ikhlaskan demi Kebahagiaan sahabatmu", ucap pasukan semut yang menghampiriku tiba-tiba.
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
"Parasnya memang indah, Hati sahabatku pun memilihnya", gumamku sembari memandangi foto wanita itu.
"Semoga ia wanita yang baik!", harap'ku penuh.
"Kawan, Semoga kamu bahagia dengannya!", doa'ku berlanjut.
"Ya Tuhan! buatlah mereka selalu bahagia bersama, amin!"
Benar-benar aku terjatuh dihempas sekeras-kerasnya, Ya Tuhan!
Tangisku benar-benar menderah hebat. "Ya Tuhan, Kuatkan aku!!!", jeritku lantang.
--------
Kami masihlah bersahabat.
Dia selalu baik terhadapku, tak jauh berbeda seperti semula.
Aku mencoba menempatkan diriku ini sebagai sahabatnya yang dulu.
Aku takut ia menyadari perasaanku, aku tak mampu membayangkan bagaimana jadinya.
Aku takut kehilangan dia sebagai sahabatku.
"Tuhan! biarkanlah tetap seperti ini! Kuatkan aku!", pinta'ku pada Tuhan'ku yang amat menyayangiku.
--------
Suatu ketika, dia mengirim pesan singkat kepadaku.
Namun aku belum bisa membalasnya.
Dua berlalu, ku sempatkan menjawab pesan yang telah berlalu itu.
Cacian, makian, semua kata-kata buruk terlontar membalas pesanku.
Kaget, tiba-tiba saja seperti itu. benar-benar sakit yang kurasa.
"Siapakah dia?", tanya'ku penasaran.
--------
Awalnya Iblis membisikkanku,
"Ia adalah wanita terbaik dan pantas untuk sahabatmu!"
Ku tatap mata Iblis itu.
Dalam hati ku bertanya "Sahabatku mempercayakan hatinya pada wanita itu, bagaimana mungkin aku tidak?"
Bodohnya aku, aku mempercayai bualan Iblis itu.
Ku tenangkan hatiku "Semoga ia wanita yang terbaik".
--------
Apa yang ku dapat?
Wanita itu menghunus tombak tepat merobek kepercayaanku pada dirinya.
Ku terdiam, penuh tanya, "Apakah benar seperti itu pilihan sahabatku?"
"Apakah benar, Ya Tuhan?", tanya'ku lagi.
"Tuhan, aku menyesal! maafkan!", ku bersimpu dihadapan Tuhanku.
"Ini benar-benar sakit Ya Tuhan!".
--------
Wanita itu benar-benar menyakiti hatiku.
Mendung gelap membenarkan.
Semua perkataannya membuatku seakan mati. benar-benar mati.
"Siapa dia?", tanya'ku marah.
"Kamu tak pantas untuk sahabatku!", teriak'ku dalam hati.
"Aku tak rela sahabatku yang baik hati bersandar pada wanita jejadian sepertimu!", marah'ku dalam hati.
--------
Iblis datang kembali memaksa mata ini 'tuk menatap sosoknya,
Seketika ku sibak tangan Iblis dan dengan lantang ku teriakkan "Aku takkan mempercaimu lagi!".
Iblis tertawa lalu pergi begitu saja.
"Mati lah kau dilahap api!", hujat'ku.
Kini kusadari, keindahan wanita itu hanyalah tipuan yang dibenarkan oleh makhluk terkutuk itu.
Benar! dia! wanita cantik, titisan Iblis.

-------- -------- -------- -------- --------

Minggu demi minggu berlalu.
Bulan demi bulan berlalu.
Tak pernah lagi ku bertemu dengannya.
Tak pernah lagi ku menatap sosoknya.
"Kemanakah dia pergi, Ya Tuhan?", tanya'ku pada Tuhan.
Sulit ku untuk berkata 'aku harus pergi', aku bertahan di titik ini.
--------
Hari berikutnya, kami bersambung canda.
Lagi lagi hanya melalui pesan singkat dan media sosial.
Tapi ku tetap bersyukur, "Terima Kasih, Ya Tuhan!"
Benar-benar aku nyaman bersamanya.
Bimbang! Buram! apa yang sedang ku rasakan.
Menghela nafas, berfikir dengan jelas. ingin ku temukan jawaban itu.
--------
Wanita itu masihlah berkepala Iblis,
Tak pernah sedetik pun berhenti memaki'ku.
Sejauh ini angin masihlah menenangkanku.
Aku masih bisa bersabar, menghadapi caciannya dengan balasan yang mematikan.
Menjawab singkat nan cedik, itu cukup membunuhnya.
"Tuhan! lihatlah betapa konyol'nya wanita itu!", ku tertawa.
--------
Suatu malam, ketika aku aktif di media sosial,
Wanita itu tetaplah gemar melakukan everything full of shit.
"Oh God, Take her Now!", aku sempat mendoakan'nya seperti itu.
Bukan karena apapun, tapi karena hati ini tlah lelah dengan permainannya.
"It's not Good way to make me Fall, mbak!", ucapku dalam hati, lalu ku tertawa.
Aku sadar, dia seperti itu karena menyayangi sahabatku. But it's OVER.
--------
Hari demi hari, tetaplah dia sekonyol itu.
Awalnya aku sakit hati, tapi semua itu nampak semakin lucu dihadapanku.
Hari-hari'ku diselimuti Tawa, menertawakan ke'konyolan'nya.
Rumput-rumput pun bergoyang lincah, ikut bersamaku.
"Betapa lucunya wanita itu? hahahaha", sahut merpati disamping layar PC'ku.
Aku pun berlanjut dengan aktivitas'ku, menganggap hal itu hanya lelucon.
--------
Aku tahu, sahabatku menyukai lagu-lagu Indie,
Suatu ketika, ku coba mendengar salah satu lagu dari Band favoritnya.
Setiap hari ku kumpulkan semua lagu-lagu yang pernah didengarnya.
Setiap hari pun ku dengarkan lagu-lagu itu, ku coba menghafalnya.
Irama'nya benar-benar tenang, amat jauh berbeda dengan lantunan musik favoritku.
Meski kurang nyaman di telingaku, namun ku coba menyukai lagu-lagu tenang favoritnya itu.
--------
--------
--------
--------
Di malam yang sunyi, hanya ada angin yang berhembus kesana-kemari.
Ku sempatkan diri untuk aktif di media sosial,
Tak ku duga, tak ku sangka, something miracle was happening.
"Ya Tuhan! secepat itu kah mereka berakhir?", tanya'ku pada Tuhan.
Awan mendung menghampiriku, "Senang ataupun sedih, tempatkanlah dirimu se-nyaman mungkin!".
Aku hanya mengangguk, tak sanggup berkata apapun.
--------
Aku bersedih, karena ku tahu sahabatku menyayangi wanita itu.
Nyamuk-nyamuk hanya mendengung, makin membingungkanku.
Aku bahagia, karena Tuhan tlah memisahkan mereka.
Ku tahu wanita itu bukanlah wanita yang tepat untuk sahabatku.
Wanita itu selalu membuat sahabatku tertekan, menderita, sahabatku amat disengsarakan oleh tingkahnya.
Hampir di setiap waktu ku dengar keluhan-hati, tentang tuduhan dari wanita berkepala Iblis itu terhadapnya.
--------
"Astagaaaaaa!", kagetku. Wanita itu tetaplah gemar mencaci'ku.
Dia menyalahkan aku atas usai'nya hubungannya dengan sahabatku.
"Ya Tuhaaaaan! Lihatlah! betapa lucunya wanita ini!", gumam'ku.
Beribu kali pun kau mencaci'ku, TAK AKAN pernah ku tanggapi serius.
"Apakah belum cukup misil beracun'ku itu, mbak?", tanya'ku konyol dalam hati.
Matahari menyilaukan mata berkata, "Hancurkan mulut biadapnya!".

-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------

Aku tetaplah Aku.
Tiada apapun yang dapat merubahku menjadi lebih buruk.
Dengan kasih dan cinta Tuhan, aku 'kan selalu menjadi Aku yang lebih baik.
"Sejujurnya, aku menginginkannya Ya Tuhan! tapi ia tak sedikitpun mengerti hal itu".
Banyak lelaki yang datang, tak satu pun aku tertarik.
Bulan bersenandung, "Aku Rapopo! Aku Rapopo!".
--------
Dia amatlah baik terhadapku.
Ada kala disaat ia bersedih, aku berusaha menjadi penghibur hati.
Maafkanlah aku yang terlanjur menaruh hati padamu. Ku tahu, aku tak pernah di hatimu.
Mungkin kata-kata manismu waktu itu hanya 'tuk menghiburku.
"Andai bukan aku, ku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu diluar sana", bisik'ku dalam hati, amat perlahan.
Aku gadis kuat, tapi hanya dengan seperti ini aku bisa menangis. "Konyol!".
--------
Ku tahu, hari-hari'nya menyedihkan tanpa wanita itu.
"Hadeh! seharusnya kamu bersyukur pisah dengannya!", caci'ku dalam hati.
Bagaimanapun juga dia tetaplah sahabatku yang amat ku sayang,
Sekuat hati, sebisa mungkin, aku menghiburnya.
"Selalu ku doa'kan untuk kebahagiaanmu, Kawan!"
Hanya itu yang ku bisa. Maafkan!
--------
Bintang-bintang selalu setia menemaniku di kala malam aku terpuruk.
"Ya Tuhan! rasa itu masih nyata! ada!", ku menangis.
Ntah bagaimana aku melalui ini, tampak sulit.
Bintang menenangkan, "Berusaha lah! akan ku bantu membisikkan rasa'mu padanya!".
Sejenak ku terdiam, ku turuti kata Bintang.
Kala itu aku berusaha menjadi yang terbaik untuknya.
--------
Berhari-hari tak henti-hentinya ku berfikir "Bagaimana?".
Sungguh gelisah. menatap apapun nampak buram.
Hingga satu cahaya muncul, Dia!
"Ya Tuhan, apakah aku benar-benar tlah jatuh hati padanya?", tanya'ku bingung.
Bintang tak menjawab, ia hanya tersenyum memastikan.
Ku terdiam, melanjutkan rasa penasaranku. ingin ku temukan jawabannya.

-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------

Beberapa hari setelah itu,
Ku melihat sesuatu "ANEH" muncul di media sosial.
Tentang sahabatku dan wanita mantan kekasihnya itu.
Sungguh aku tlah dibunuh untuk kedua kalinya.
"They're Come Back! Is it True, God??", tanya'ku Depresi.
Hanya satu kata yang tepat, "HANCUR".

Ketika fikiran berkata "Aku harus menjauh!",
Tetapi hati menepis "Aku menginginkan lebih dekat daripada ini!",
Dan air mata lah yang menjawab ketika bibir sudah tak mampu lagi mengucap.
"Aku mencintaimu karena Allah!", bisik'ku perlahan, tertampung jauh dalam batin.
"Jika kamu menginginkan yang seperti ini, lakukan!", teriak'ku marah dalam hati.
"Lakukan sepuas hatimu! biarlah aku disini. menunggu angin membawamu padaku", gumam'ku menenangkan batin.
Merah Hitan, lalu menjadi Abu-abu, dan MENGHILANG.

-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------
-------- -------- -------- -------- --------







#Cholifah

Kamis, 08 Mei 2014

Laju Maut Jupiter-Coaster

Ini adalah Cerpen hasil tulisan tangan saya,
bertemakan Roman.
Ini fiksi belaka ataupun kenyataan, silahkan berpendapat di kolom komentar!
let's Read!




Tuhan,
Aku pernah mengagumi seseorang,
Namun tak dihiraukan.
Aku pernah mencintai seseorang,
Namun tak terbalaskan.
Aku pernah menyayangi seseorang,
Namun tersakiti.
Aku pernah mengorbankan hidupku,
Namun aku disia-siakan.
Dan, pada akhirnya, ku Teriakkan bahagiaku, syukurku!
"Tuhan, aku tlah menemukan satu diantara ratusan juta".
Sosok yang kucinta, yang mencintaiku pula.
"aku tlah menemukannya!"
"Lihatlah! Dia!"
"Lihatlah!"
"Yang kini Lenyap sudah!".
Tak kusadar, pipi ini telah basah.
"Bukan tangisan, mungkin hanya tetesan hujan".
Bintang menertawakanku lalu pergi begitu saja.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------


Awal pertemuanku,
Senja tlah berakhir, malam pun tiba.
Kala itu, kaki ini menantinya disamping Ballroom.
Jemariku mengirim pesan singkat, ku katakan bahwa aku telah sampai.
Ku menanti, dalam hitungan menit "Jupiter-Coaster" menghampiriku.
Penuh kagum, terpesona, penasaran, dan tak hentinya dua bola mata ini menatap keelokan rupanya.
Berjabat tangan, ku menyebutnya inilah perkenalan.
Memang tak seindah bak drama Puteri Cinderella dan Pangerannya,
Namun awal itu adalah satu yang terbaik.
Tak mewah, namun "lebih bernilai daripada Istana Dewa" untukku.
Ku tapakkan kaki, menaiki "Jupiter-Coaster".
Detik itulah ku mengenal apa itu yang disebut Indahnya Kebebasan.
Sosok yang mampu membawaku keluar dari kurungan yang menyiksa dan jeratan rantai mematikan.
"Ya Tuhan, apakah Dia malaikatmu?".
Bak melarikan diri dari sanderaan penyamun, aku amat senang menghirup udara bebas.
Jeritku dalam hati, "Ibu maafkan aku, aku yang rela mencipta kata-kata dusta, yang ku lakukan hanya agar aku bisa menatap sosoknya".
Diselimuti rasa bersalah, tak henti-hentinya ku memohon maaf pada Tuhan.
Semoga Tuhan masih mengasihaniku.
"Tuhaaaaaan!", desahku.
-----
Duduk ditengah keramaian pasar malam.
Ramai, namun ku merasa cukup Tenang.
Ku tak merasakan gaduh apapun.
Tuhan, ku menikmati kala itu.
Ditemani seikat Kembang Gula dan secangkir es Coklat favorit lidahku.
Angin memulai perkenalan, bibir ini mengungkap siapa aku,
Bibir manis nan indah itu pun menyambung ceritaku, menjawab tanyaku, menemani keingintahuanku.
Dia! siapa Dia? aku mulai mengenal, mulai mengerti.
Kalau diingat, tingkah kami kala itu, ya memanglah lucu, lugu, manja, dan sedikit nakal.
Bintang dan Bulan tersenyum menyaksikan kami.
"Nampak amat indah, ya Tuhan!", hatiku berteriak.
Seiring angin yang berhembus kesana-kemari, ku sadari Dia adalah sosok yang periang, penuh semangat, dan mampu menghadirkan beribu juta tawa.
"Tuhan, he's more than Perfect!", kagumku dalam hati.
Berbincang sesaat, lalu kami melanjutkan berkeliling di pasar malam.
Kuhirup udara segar.
Ahh, ku rasa sudah lama sekali ku tak berkunjung ke ramainya pasar malam.
Bahagia, yang kurasa. tak ada lagi kata yang sanggup mengungkapnya.
Binar-binar gemerlap lampu warna-warni pasar malam, permainan Kicir udara dengan kilat warna biru, dan sinar Bintang-bintang & Bulan.
Mereka lah saksi pertemuan kami.
Dua hati yang terlukai oleh masa lalu.
Aku dengan masa laluku bersama seseorang yang memuakkan, dan Dia dengan masa lalunya bersama seseorang yang tak cukup jelas.
-----
Pertemuanku dengannya tidaklah cukup sampai disana,
Tuhan memberikan jalan yang amat indah untukku. sungguh!
Di hari-hari berikutnya pun Tuhan masih mengizinkanku untuk menatap wajah itu.
Menjerit dalam hati, "Terima kasih, Tuhan!"
-----
Ku lalui hari-hari penuh rintangan dan kesenangan bersamanya.
Mencoba lebih mengenal, siapa aku, siapa Dia.
Saling memberi semangat ketika semuanya nampak mustahil untuk dipatahkan.
Saling menopang ketika semuanya mulai mendekati kehancuran.
Saling memberi senyuman ketika semuanya mulai terasa berat 'tuk dilakukan.
Apakah kami Teman? Sahabat? atau sesuatu yang tak mampu disebut?
Ntahlah? tanyakan pada rerumputan yang bergoyang, disebelah sana. Mungkin mereka mampu menjawab.
Jika tidak, tanyakan pada air yang mengalir, disana! Mungkin ia sanggup menjawab.
-----
Tuhan,
Aku hanyalah seorang wanita yang memendam seribu duka yang seketika merasa nyaman, ketika berada di sisinya.
Aku hanyalah seorang wanita lemah yang seketika tangguh, ketika bersamanya.
Aku hanyalah seorang wanita penuh luka yang seketika menemukan secuil bahagia, ketika bersamanya.
-----
Aku tak mampu menjelaskan "Apa?".
Bertanya pada hati pun ku tak tahu.
Kurasakan hembusan angin yang memanglah berbeda.
Berbeda dari angin-angin biasanya.
-----
Tuhan,
Ku tak tahu, apa dan bagaimana.
Ku mohon pada Tuhan, berilah penjelasan.
Aku nampak amat bodoh, maafkanlah!
 -----
Menit-menit yang berlalu sungguh amat berarti, ketika bersamanya.
Yang Terindah, takkan mampu diuntai kata.
Ku merasakan angin yang berbeda. sungguh!
Perlakuannya, membuatku semakin bertanya, "Apa?"
-----
Pertengahan Oktober,
'Mengikat sebuah janji untuk saling menghargai dan mengerti'
"Aku mampu! Kami Sanggup!", jeritku dalam hati.
Menetes, mengalir, membasahi pipi, "aku tak menangis, ini hanyalah tetesan Hujan!"
Tangan hangatnya menggenggam tangan ini.
Benar-benar, aku tak ingin dilepaskan.
Sungguh hangat, dan aku suka.
Kami berjalan diatas laju "Jupiter-Coaster dan melanjutkan kebahagiaan.
Angin menyemarakkan kala itu.
Bulan dan Bintang-bintang pun membenarkan bahagiaku.
Kami melaju pada hati Rapuh yang mulai berlabuh Utuh.
Memang benar yang ku sebut itu.
Rapuh, hatiku ini benar-benar rapuh, karena cerita di masa lalu.
Cerita masa lalu, kala aku dihianati seseorang yang kelak pantas mendapat Balasan dari Tuhanku.
Utuh, aku merasa Kehadirannya cukup 'tuk sembuhkan luka ku.
Aku merasa Dia tlah merangkai hatiku, hati yang benar-benar tlah terberai, Utuh kembali.
"Tuhaaaaaan, kami saling menggenggam, menguatkan, memenuhi, menjaga, memahami! lihatlah!"
"Tuhan tahu", sahut bintang padaku.
-----
Melaju diatas "Jupiter-Coaster", ku lewati menit-menit bersamanya.
Mulai merincih segala apapun yang belum ku ketahui.
Untaian kata yang menjelaskanku tiap inci dari rangkaian si Jupiter.
Aku tak mengerti secuil apapun tentang Kinerja Jupiter atau apapun sebutannya,
Disanalah letak sesuatu yang ku sebut 'Baru'.
Yaaah, bersamanya ku mulai mengenal inci per inci susunan si Jupiter.
Dengannya, aku mengetahui apa itu Mesin. meski tak banyak, aku tahu.
Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih, Sayang.
Terima kasih, Bulan, Bintang, Angin.
-----
Tuhan,
Kami terus melaju diatas "Jupiter-Coaster".
Melewati jalan-jalan yang belum pernah aku jamah.
Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kaki ini tapakkan.
Dia! yang membawaku ke tempat-tempat indah, menghabiskan waktu bersama.
"Tuhan, ini benar-benar indah".
Aku amat bahagia bersamanya, Dia! iya, Dia! yang terindah!
belum pernah ku rasakan indahnya Cinta yng seperti ini.
"Tuhaaaaaan, Terima kasih!", jeritku.
Kedua tangan ini memeluk erat tubuhnya.
"Berikan satu ciuman! di pipi ini", pintanya.
"Aku tak mampu, belum saatnya!", jawabku dengan candaan kecil.
Kami berlanjut, tertawa bahagia bersama. menikmati indahnya malam.
"Tuhan, jangan pisahkan jiwa ini darinya!", aku memohon pada Tuhan.
Kami nikmati hembusan angin kencang yang menemani kami melaju diatas "Jupiter-Coaster".
Mengunjungi tempat-tempat indah, bersamanya!
Aku bahagia. tak ada kebahagiaan yang lebih daripada ini.
"Tuhaaaaan, Terima kasih!", beribu kali ku ucap.
-----
Suatu ketika,
Were u felt so Dissapointed with someone/something? deep inside ur Heart?
How 'bout Me? I were.
He Broke his own promise to me. He broke it just for someone/something that Really Absurd.
Namun, ku coba memaafkan. Tuhan tahu.
yang paling pertama adalah berusaha memaafkan aku dan kekecewaanku ini, lalu ku coba memaafkan Dia dan kesalahannya.
Sekilas angin berhembus tapi lantas aku berbisik dg pelan nan tegas “Aku masih sanggup bertahan!”
Tuhan! Lihatlah!
Aku mampu. aku berjuang. masih dan akan selalu.
"Tuhan, jagalah aku, dan orang-orang yang kusayang, seperti Dia!".
"Maafkanlah aku, Tuhan!"
"Maafkan aku atas kekecewaanku yang amat mendalam ini!"
"Ampuni dia yang kali ini benar-benar mengecewakanku!", ku mohon pada Tuhan.
-----
Aku masih mengingat, dan masih kuat mengingat akan satu hal,
Dulu, aku sering meminta kepada Tuhan,
"Ya Tuhan, hadirkanlah seseorang yang menyayangiku tepat On My Sweet Seventeen!".
Dan, Tuhan telah mengabulkan permintaan lama ku itu! Tuhan menghadirkannya! Dia!
Dia! duduk di hadapanku, merayakan malam Ulang Tahun-ku yang ke Tujuh Belas.
"Tuhan! terima kasih!".
Hatiku berteriak penuh haru, "Tuhan! engkau benar-benar menyayangiku!"
Dia lah jawaban dari permintaanku dulu, dulu kala aku benar-benar terpuruk dan memohon.
Keinginan 'tuk menggenggam Bulan pun tak ada artinya lagi ketika Tuhan tlah menghadirkan Dia, tepat di hadapanku.
Tak ada kado terindah selain Dia. sungguh!
Tuhan benar-benar mengasihi aku, mencukupi aku dengan segala kasih sayang-Nya. Tuhan! benar-benar ku sampaikan Terima kasih.
Lagi-lagi pipi ini basah, "Yaaah, harus kuakui kali ini aku menangis, bukan lagi tetesan hujan! tangis bahagia."
Tertawa, ku bersyukur kepada Tuhan!
Ku sebut beberapa permohonanku kepada Tuhan untuk bertambahnya usiaku.
"Ya Tuhan, jadikan Dia sebagai yang terakhir untukku!", salah satu bait dari permohonanku.
-----
Hari-hari selanjutnya pun Everything still Okay, and I Wish Everything Always Okay.
Tak ada yang Berubah, namun sedikit terasa berbeda.
"Apa?" Aku belum menemukan.
Di fikiran dan benakku memanglah mulai merasakannya,
"Tuhan, mengapa ini berbeda?", fikirku dipenuhi beribu pertanyaan.
Tak lagi seperti sebelumnya.
Sungguh!
Ku tanyakan pada angin, tak ada jawaban.
Ku tanyakan pada runtuhan ranting, ia pun tak menjawab.
Ku terdiam. bak terendam larutan formalin, ku masih bertahan pada Diamku. Ku putuskan 'tuk menyimpan, merenung, dan tetap pada kebingungan yang mendalam.
-----
Aku belum menemukan "Apa?" atas ini semua dan "Mengapa?" bisa seperti ini.
Kata-kata itu, membuatku benar-benar merasa hubungan kami berada diujung tanduk.
Aku berusaha, aku sanggup, aku mampu, Mempertahankannya!
Aku memohon pada Tuhan, "Tuhan, aku masih mampu melanjutkan!"
"Tuhan! dengarkan! aku mampu! aku sanggup! Lihatlah!".
Hembusan angin sedikit menenangkanku. aku mengarungi lautan tangis.
Indera Pencium ini masih amat mengingat aroma tubuhnya.
Wangi tubuhnya amat terekam kuat di memori. mampu menenangkan kericuhan hati.
-----
Aku memiliki seorang Sahabat, yang selalu ada untukku. Sebut saja Nugraini.
Nugraini adalah sahabatku sejak di pertengahan bangku SMP. Hingga saat ini kami masihlah menyempatkan waktu untuk sekadar mengobrol, bercerita, dan bersantai bersama.
Dia pun memiliki Teman akrab, sebut saja Dirgantara.
Mereka menghabiskan waktu bersama ketika di sekolah, di rumah, maupun di tempat lain.
Suatu saat terjadi kesalahpahaman.
Nugraini membela aku ketika Dirgantara mengungkap cerita palsu tentang aku dihadapan Nugraini.
Bukankah benar apa yang dilakukan Nugraini itu?
Seorang Sahabat memanglah harus berlaku seperti itu, membela kawan, menegakkan yang benar, dan menghapuskan yang salah, aku percaya pada Sahabatku.
Kepercayaanku Utuh pada Sahabatku. tak ada Angin sekencang apapun yang mampu meragukan kepercayaanku, bahkan badai topan pun takkan mampu.
Lidah memanglah Tajam, Dirgantara mengadu kepada Dia bahwa aku tlah membuat cerita bohong tentang Dia.
"Ya Tuhan!", aku sungguh sakit mengingat kejadian itu.
Sungguh! aku hanya difitnah oleh Teman nya itu.
Mana mungkin aku merangkai cerita sebusuk itu pada seseorang yang amat kucinta? Ya Tuhan!
Benar-benar hancur, Ya Tuhan!
Ku temui Dia, ku sampaikan pembelaanku, aku tak mau semua ini memburuk, aku tak sanggup.
Setelah ku jelaskan, Dia mampu menerima semua, memaafkanku, yaaah meski ku tak tahu apa salahku.
Ini semua hanyalah kesalahpahaman antara Sahabatku dan Teman nya, hingga aku pun harus ikut terseret di dalamnya.
Tuhan tau.
Setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan sungguh-sungguh.
Juga tutur kata yang mencela, tak lagi ku cerna dalam jiwa.
Bisa ku sebut 'Badai usai sudah'
Semua tlah kembali seperti semula.
-----
Sometime,
aku tak tahu, mengapa menjadi seperti ini?
Semut-semut kecil pun tak lagi mau berlalu di depanku, mungkin mereka terlalu lelah karena sering ku bertanya.
"Ya Tuhaaaaaan, Tolonglah aku!", aku menjerit, kali ini benar-benar bak tombak menusuk jantung.
Yaaah, Tepat pada jantung, ketika aku menerima pesan singkat darinya.
Benar, terasa mati, tak sanggup lagi menghirup oksigen, padahal Tuhanku masih menyediakan banyak oksigen untukku.
Ntah? aku tak mampu mengungkap "Apa? bagaimana? mengapa?" aku tak mampu. sungguh!
"Tuhan, Tolonglah aku!".
Beribu kali ku memohon pada Tuhan.
Tanpa ku tahu salahku, tanpa ku tahu dosaku.
Usai sudah 'Ikatan sebuah janji untuk saling menghargai dan mengerti'. Tlah usai, ya Tuhan!
Tombak yang menembus jantung, Belati menyayat hati, cairan Poison mematikan yang mengalir pada darahku.
Terluka? Sakit? hmmm, "Tewas" lebih tepatnya.
-----
Keesokan hari, semuanya masih amat sangat buruk.
Ku temuinya, ku tanyakan, "Bagaimana benar? Apakah kau yakin mengatakan hal itu padaku??” Wajah bimbangnya makin terbaca olehku.
Benar-benar bukan Dia yang ku kenal.
"Bagaimana bisa seperti ini?", caciku dalam hati.
"Bagaimana bisa?", tangisku.
Jupiter-Coaster pun terhenti dibawah rindangnya pohon, ditemani angin sepoi-sepoi.
Ku mulai pembicaraan, sesaknya nafasku, beratnya beban hatiku, tangisku masihlah sanggup ku tahan.
Aku memanglah lemah, Bintang membenarkan.
Aku memanglah bodoh, Bulan menyetujui.
Aku memanglah gila, Angin mengangguk.
"Aku merasa kasihan padamu kalau semua ini masih kita lanjutkan!", ucapnya lembut.
"Bagaimana bisa begitu?", ucapku menyalak.
"Kamu terlalu baik untukku, kamu terlalu peduli dan terlalu meluangkan semua perhatianmu padaku", lanjutnya.
"Lalu?", tanyaku frustasi.
 "Aku tak pernah ada waktu untukmu, aku tak bisa membalas perhatianmu, aku kasihan padamu", jelasnya lagi.
Tak sanggup berkata, aku lebih memilih diam.
"Hahh? jadi hubungan ini hanya didasarkan pada rasa kasihan?", teriakku pada angin.
Angin menjawab, "Sadarlah!".
Aku hanya terdiam, tak sanggup. "Tuhaaaaaaan!!!", jeritku dalam hati.
"Tak pernahkah kamu memberi setitik cinta untukku? jawab!", tanyaku menyalak.
"Bukan, bukan begitu!", tepisnya.
"Lalu?", tanyaku sesak.
"Jika terus begini, aku kasihan padamu", jawabnya tegas.
"Baiklah!", ku tersenyum, berusaha menahan, membendung tangis.
"Tuhaaaaaaan!", hatiku teriris.
Bulan menertawakanku. Angin memelukku. Awan hanya terdiam.
Aku berlalu.
Kami kembali, mengakhiri pertemuan itu.
Kami berada di jalan kami masing-masing.
"Kuatkan aku, Tuhan!", pintaku.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Tuhan,
Aku pernah dikagumi,
Namun hanya rekayasa.
Aku pernah dicintai,
Namun hanya dusta semata.
Aku pernah disayangi,
Namun hanya rasa kasihan semata.
Lihatlah!
Ya Tuhan, "Mengapa?".
Tuhan tak menjawabku.
Tuhan hanya menunjukkan.
"Ini! Lakukan! Nikmati!"
aku bertanya, "Ya Tuhan, Beginikah?"
Hati ini pernah benar-benar merasa amat disayang,
Hati ini pernah benar-benar merasa amat dicinta,
Hati ini pernah benar-benar merasa amat disanjung,
Hati ini pernah benar-benar merasa amat dijaga seutuhnya,
Merasa amat nyaman ada di genggamannya,
Merasa amat nyaman ada di pelukannya,
Merasa amat nyaman ada di sisinya,
Merasa amat nyaman bersamanya.
Celakanya, itu tak lama, aku merasa hanya sekali tiupan angin,
Dan semua itu Lenyap! menghilang.
Oh Tuhan, "Beginikah?".

Setiap pedih yang kurasa, ku belai hati ini dengan sisa-sisa kekuatanku.
Ku Bersimpu dihadapan Tuhan,
Ku kembalikan semua kepada Tuhan,
Runtuhan ranting mencaciku,
"Apakah ini mampu membuatmu menyerah?".
Denyut nadiku menepis,
"Tidak, aku tak akan menyerah, aku hanya sedikit lelah!".
Runtuhan ranting menertawakanku.
Ku lontarkan bisik hatiku pada semut-semut kecil yang berlalu di depan sandaran Kayu ku,
"Sungguh pedih, ini benar-benar pedih!".
Aku tahu mengapa semut-semut kecil enggan menoleh ke arahku.
Iblis neraka bertengger disampingku, "Dia memang tak pernah memberikan hatinya padamu! Bodoh!".
Tak sanggup ku jawab. terbesit di hatiku, "Benarkah?".
Aku bertanya kepada Tuhan, "Ya Tuhan, Beginikah?"
Aku memohon kepada Tuhan, "Ya Tuhan, berikan kekuatan untukku!"
Mungkin Tuhan mulai kesal kepadaku karena aku terlalu banyak bertanya,
Mungkin Tuhan mulai marah kepadaku karena aku terlalu banyak memohon.
Kemudian Tuhan berjanji kepadaku, Tuhan akan memberiku yang lebih baik daripada dia, yang jauh lebih Sempurna daripada dia.
Dia yang telah mensia-siakan aku.
Aku yakin,
Tuhan amat menyayangiku,
Tuhan amat mengasihani aku,
Tuhan amat Adil kepadaku,
Tuhan 'kan selalu menjagaku,
Tuhan 'kan selalu menolongku,
Tuhan 'kan selalu memberi yang terbaik diantara semua yang terbaik kepadaku.
Dan, yang selalu ku tancapkan pada hati yang rapuh ini adalah,
Tuhan tak 'kan memberikan semua ini diluar garis kemampuanku.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

November,
Bodohnya aku, masih bersabar menunggu.
"Menunggu apalagi?", tanya Bulan padaku.
"Siapa lagi? Dia!", jawab hatiku.
"Sudahlah! Go On!", jawab fikirku.
"Aku 'kan menunggunya kembali", bantah hatiku.
"Tak sanggup disebut dengan kata-kata, kamu Bodoh atau benar-benar Bodoh?", marah fikirku.
Hati dan fikiran ini saling berlawanan. jika ditanya, "Aku tak tahu!"
-----
Hubungan kami tlah usai, namun kami masihlah menjunjung tinggi Pertemanan.
Suatu malam, angin mengajakku 'tuk bertemu dengannya.
Berjabat tangan, kusebutnya sebagai tanda penghormatan.
Kami melaju diatas "Jupiter-Coaster".
"Tuhan, ini masihlah terasa seperti sesuatu yang tlah berlalu", bisik hatiku pada Tuhan.
"Jangan pergi! tetaplah bersamaku!", pintaku padanya.
"Sudahlah, jangan terlalu digenggam, lepaskan jiwa ini! biarkan aku lepas!", Hujatnya.
"Kamu satu-satunya yang kumau!", bantahku.
"Biarlah jiwa ini pergi! carilah kebahagiaanmu, BUKAN AKU!", jelasnya padaku.
"Pergilah jika itu maumu! aku tak 'kan menahanmu! jangan hiraukan aku. aku 'kan menantimu! ini mauku.", tangisku.
"Kamu mampu mendapat yang lebih baik daripada aku!", sahutnya lembut.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Desember,
Tuhan,
Lihatlah dia!
Dia yang aku cinta seutuhnya,
Yang aku puja karena kesempurnaannya,
Yang aku junjung setinggi angkasa.
-----
Di satu malam kami berjumpa.
Dengan penuh harap ku bawakan beberapa jenis permen.
Jauh hari aku tlah menjanjikan itu.
Mata terpana, hembusan angin menemani laju nya "Jupiter-Coaster".
Dengan bodohnya tangan ini berani menyodorkan permen-permen yang sudah jenuh di genggamanku.
Harapan penuh akan senyuman darinya. Sungguh!
Malam itu kami berlabuh di ujung kota.
Di bawah sinar bulan, kami duduk dengan dihadapkan segelas Pop Ice Coklat dan segelas Es Teh Manis.
"Tuhan! Kami menikmati kala itu!", desahku dalam hati.
Ku buka layar-lipat'ku, ku putarkan salah satu film di dalamnya.
Empat mata menyaksikan film ber-genre Romance.
"Ya Tuhaaaaan! Aku bahagia di dekatnya".
Malam itu benarlah indah.
Hanya menjerit dalam hati, "Bahagiaaaaanya aku Ya Tuhan!"
Jiwa nan rapuh mencoba berucap, "Semoga harimu bermacam-macam indahnya seperti permen-permen itu!"
Dengan tenang ia menjawab, "Mungkin akan ku bagikan dengan teman-temanku!".
Setitik perih tercoret di hati.
"Tak apa-apa fah!", jawabku tenang dalam hati.
Cukuplah pertemuan malam itu, laju mautnya mengantarkanku pulang.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Pertemanan tetaplah pertemanan,
Tiada api manapun yang sanggup membakarnya hangus.
Angin menyeretku, lagi lagi 'tuk bertemu dengannya.
Malam itu adalah Christmas Moment, kami melaju diatas "Jupiter-Coaster".
Kaum Kristian merayakan Natal, kami tetap melaju.
Menelusuri jalanan, menghirup udara bebas, inilah Keindahan Dunia.
"Jupiter-Coaster" membawa kami dari ujung paling Selatan kota hingga ujung paling utara kota.
Tetap bercanda seperti biasa, diatas "Jupiter-Coaster".
"Tuhan, aku amat bahagia!", seruku dalam hati.
Bulan mengernyitkan dahinya, ku bertanya, "Mengapa?"
Bulan pergi meninggalkanku, aku makin kebingungan.

Tak terasa, 2-3 jam berlalu.
Di perjalanan "Jupiter" mengantarku, ribuan keputusan bercampur menjadi satu difikiranku.
Bibir tak lagi mampu berkata, tak terbendung lagi, ku menangis, penuh bimbang, gunda, Bulan menertawakanku.
Sampailah di ujung jalan, "Jupiter-Coaster" enggan menurunkanku. Dia membawaku kembali ke jalan awal.
Fikirku masihlah amat bimbang, ku tak tahu hendak berkata apa, Sungguh!
Tiba di seberang jalan, "Jupiter-Coaster" terhenti di sebuah bangku, dibawah rindangnya pepohonan.
Kami hanya ditemani cahaya lampu jalanan, sunyinya malam, dinginnya angin malam, sinar bulan, bintang tak mau muncul.
Bisu, lebih tepat aku disebut begitu.
Dia duduk diatas bangku, sedangkan tubuh ini masihlah terdiam diatas "Jupiter".
Tangan hangatnya menyodorkanku permen mint, permen yang seakan-akan berbicara padaku "Tenangkan hatimu!".
"Mengapa terhenti disini? ayo kita pulang!", ucapku.
"Bagaimana ku bisa mengantarkanmu kalau kamu masihlah begini (menangis)? lanjutkan saja!", ledeknya.
Ku tersenyum. "Jupiter-Coaster" mengantarkanku.
Hatiku kalut, fikiranku bimbang, aku belum siap membuat keputusan ini.
Memanglah sudah ku rangkai matang-matang,
Di tengah-tengah perjalanan, dengan semua sisa-sisa kewarasanku akhirnya ku katakan.
"Tak bisa seperti ini lagi", cetusku.
"Maksudmu?", tanyanya padaku.
"Kita tak bisa bertatap lagi, seharusnya tak seperti ini", tangisku.
Dia hanya diam. ku lanjutkan.
"Tak bisa seperti ini lagi! ini yang terakhir kita bertatap."
Dia masih memperhatikan ucapan kegilaanku.
"Ini yang terakhir kita bertatap", tangisku makin mendera.
Tak ada sahut, dia hanya terdiam.
"Kalau terus seperti ini, kapan ada kesempatan aku bisa menghapusmu?", teriakku.
Dia hanya tersenyum, lalu tertawa.
Betapa Gila nya aku kala itu, Bintang terbahak-bahak menyaksikanku.
Ahh, Aku tak tahu. benar-benar tak waras. aku sadar, ini Gila, tapi inilah yang seharusnya ku lakukan.
Sudah ku fikir matang-matang. ini kehidupan, bukan drama perfilman. aku sadar, ini! harus!
Bukan lelucon atau candaan, mengapa Dia menertawakanku?
"Beri aku waktu, 5 tahun ke depan kita jumpa lagi! bisakah?", tanyaku penuh harap.
"5 tahun? tidak bisa. dalam waktu 5 tahun kedepan mungkin aku sudah membina rumah tangga, kita tidak bisa berjumpa lagi", jawabnya tegas.
Sungguh! bak tersambar petir, tangisku makin menjadi, sesalku bukan main, sedihku sedalam lautan, tak mampu ku jelaskan.
"Nikmati!", ledek Bintang padaku.
"Rasakan!", caci Bulan padaku.
"Tuhaaaaaaaaaan!", jeritku dalam tangis.
Menyodorkan layar Ponselnya padaku, "Lihatlah! sudah ku hapus kontakmu."
"Tak perlu kamu begitu!", sahutku lemah.
Tak bersalaman, tak menatapku, Dia menancap Gas dan pergi meninggalkanku.
"Tuhaaaaaaaaaan!", tangisku.
Serasa mati, benar-benar kehilangan seluruhnya, tak lagi bisa ku lanjutkan dengan sisa-sisa nafasku ini.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Tuhan,
Lihatlah dia!
Dia yang memberiku setitik canda,
Yang memberiku tempat bertumpu ketika ku tak mampu,
Yang memberiku setitik kebahagiaan yang tak mampu kusebutkan.
Tuhan,
Dimanakah dia yang seperti itu?
Masih adakah dia yang ku butuh?
Kemanakah angin melenyapkannya?
Tuhan,
Engkau tahu, sudah tak ada lagi.
Engkau tahu, Dia benar-benar tak ada lagi.
Angin melenyapkannya, tak bersisa. dihempasnya begitu saja.
Tuhan,
Aku tahu ini rencana-Mu!
"Beginikah, ya Tuhan?"
Tuhan, sekali lagi ku bertanya, "Beginikah?"
Ya Tuhan,
Dulu, satu-satunya kebahagiaanku, Dia.
Dulu, yang kupuja-puja, Dia.
Dulu, yang kusayang, Dia.
Dulu, yang menghadirkan tawa ketika ku duka, Dia.
Dan, yang memberi setitik air mata, Dia.
Memanglah sempurna, hanya satu-satunya yang ku cinta.
Tuhan, "beginikah?"
Lalu ku menertawakan diri ini lagi.
Betapa bodohnya aku,
Sudah jelas Dia yang menginginkan perpisahan ini. Sudah jelas Dia tak menginginkan aku lagi. Namun ku tetap memberi ruang untuknya pada hati ini.
Betapa bodohnya aku,
Aku lah yang memintanya agar tak berjumpa lagi, namun aku pun menginginkan setiap saat ku membuka mata Ia hadir di hadapanku.
Ku takkan melupakannya, ku coba menerima dan menyadari Kenyataan ini.
Sesekali semua kenangan itu muncul, nampak nyata.
Ku menangis, hanya ditemani bintang-bintang yang seakan-akan bertanya-tanya padaku.
"Siapa dia? apa dia?".
Serpihan hatiku menjawabnya,
"Hanyalah sosok di masa lalu, yang menghadirkan secuil cinta dan tetes-tetes air mata".

Melihat ilusi-ilusi yang memanglah kurasa pernah ada,
Berpura-pura menganggap semua pedih ini hanya mimpi,
Dan meyakinkan diriku sendiri, badai pasti berlalu.
"Tuhan, aku memohon, kuatkan jiwa yang lemah ini!", jerit tangisku pada Tuhan.
Bulan berbisik kepadaku,
"Tersenyumlah! ini awal perjalananmu!"
Melihat lagi, yang tersisa hanya kenangan.
Berpura-pura menganggap, ini mimpi indah dan terpanjang yang pernah ku alami.
Meyakinkan hati ini, bahwa semua ini hanya badai sementara.
Namun, hujan menyadarkanku, "Come On! Wake Up! Semua ini Nyata!".
Aku bertanya, "oh Tuhan, mengapa se-sakit ini?"
Sambil ku tertawakan diriku yang benar-benar pantas ditertawakan.
Dedaunan kering pun ikut menertawakan kebodohanku.
"Ya Tuhan, lucu sekali aku ini", tawa ku.
Air mata yang menjawab ketika Bibir ini tak lagi mampu mengucap.


--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------
--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------
--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------



Aku Benar-Benar Memohon, Ya Tuhan!".
Cukup, hanya itu.


--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------
--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------
--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------



Mei, 2014.
Kucoba beranikan jemari ini mengetik sebuah pesan.
Apa kabar jiwa itu? Apa kabar raga itu?
Kucoba beranikan jemari ini menekan tombol “Send”.
Ku tunggu, beberapa detik kemudian, “Message sent Success” muncul pada layar.
Hati ini amatlah bahagia.
“Tuhan! Jupiter masih bisa ku hubungi!”
Beberapa menit, ku terima balasan darinya.
“God, Everything flow greatly Amazing!”, syukurku pada tuhan.
-----
Aku hanya ingin memberinya sedikit hasil tanganku.
Benar-benar berharap dia senang menerimanya.
Aku salah, kekecewaan yang ku dapat.
“Waktu berlalu begitu cepat ya tuhaaaaan!”, bisik hatiku pelan.
“I love the way you hurt”, sahut Bulan yang bersinar terang pada kegelapan.
“You shouldn’t be like this!!!”, semut-semut menatapku.
Tetesan air mata ini membuatku nampak “Emmm, betapa lemahnya aku!”.
Ku tersenyum. Bagaimanapun juga aku bersyukur pada Tuhan.
Tuhan tlah mengizinkanku memberikan karya itu pada Jupiter.
“Meskipun hatiku terbanting pilu, fikirku terkoyak kasar, Aku bahagia Ya Tuhan.”
Tersenyum manis dan mengambil selembar sapu tangan.
Tuhan membelaku.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Juli, 2014.
Di bulan penuh berkah,
Sungguh senangnya aku, aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Favoritku.
Beribu kali kuucap syukurku pada Tuhan.
Malam itu, jemari pemberani ini mengirimkan pesan singkat.
Maksud hati ingin berbagi bahagia.
Ia menyambut baik pesanku.
Bintang-bintang menyaksikan kami saling berbalas pesan.
"Tuhan! Ia masihlah peduli dengan hamba!", ucapku bahagia.
Bulan melihat kami saling berbagi nasihat.
Aku dengan studiku, Ia dengan pekerjaannya.
Lindungilah kami selalu, Ya Tuhan!
Mudahkanlah jalan kami selalu, Ya Tuhan!
Berkahilah jalan kami masing-masing, Ya Tuhan!
Aku, bintang, dan bulan serentak menjawab "Amin!"
-----
Suatu malam,
Benar-benar kebodohanku melakukan hal itu.
"Ampuni aku Ya Tuhan!", tangisku tak bisa ku tahan.
Terpaksa ku berbohong padanya,
"Semoga Tuhan memaafkanku! Amin!", sesalku tiada batas.
Aku kecewa dan marah terhadap kebodohanku sendiri.
"Semoga engkau mengerti bahwa tiada satupun lelaki yang mampu menapak pada hati ini kecuali dirimu", tangis gilaku.
"Semoga engkau mengerti! mengerti bahwa hanya engkau di hatiku", jeritku lantang.
Kekecewaanku terhadap diriku ini benar-benar membuat aku kalut,
Aku tak sanggup berbohong lebih lama kepadanya tentang sosok lain di hati ini.
Aku marah pada diriku sendiri.
Ku putuskan 'tuk berhenti menghubunginya,
Ku tekan tombol laknat di layar ponselku, "Delete Contact".
"Ya Tuhan!", sesalku.
Mungkin dengan ini aku bisa melupakannya.
-----
28 Juli 2014,
Hari raya Idul Fitri tiba,
Perasaan gunda bercampur pilu tak terbataskan.
Ingin ku mengucap kata "Minal Aidzin Wal Faidzin" melalui pesan singkat,
Tetapi, memang bodohnya aku yang telah menghapus Kontaknya.
Tubuh ini hanya terdiam.
Sinar mentari menenangkan.
Dalam hitungan menit, muncul lah pesan baru pada layar ponselku.
Pesan singkat dari sebuah nomor asing,
Berisikan ucapan Mohon maaf lahir dan batin,
Itu lah pesan singkat dari seseorang yang kutunggu.
Bergeming bahagia tak henti-hentinya ku ucap syukur pada Tuhanku.
Sejak saat itulah ku menyimpan kontaknya kembali.
Dengan gila ku tanyakan, "Akankah engkau berkunjung ke gubukku?".
Ia akan mengunjungiku hari itu juga,
Tetapi, betapa tak beruntungnya aku, aku masihlah berada di rumah nenek.
Secepat mungkin aku jawab, "Esok aku pulang".
Ia tak bisa mengunjungiku,
"Ya Tuhan! lagi-lagi aku tak beruntung!", tangisku.
Ku tanyakan "Mengapa?".
Ia menjawab bahwa ia akan pulang ke kampung halamannya, Semarang.
"Kunjungi aku sebisamu! andaikan tetap tak bisa, tak apa-apa", jawabku dengan setitik senyum.

--------------- --------------- --------------- --------------- ---------------

Agustus, 2014.
Ku lihat layar ponselku, ku baca sebuah pesan baru.
"Ya Tuhan! Ia akan kemari!", loncatku bahagia.
Runtuhan dedaunan ikut bahagia bersamaku.
Pagi itu ia barulah kembali dari kampung halaman.
Tengah hari, sampailah ia di hadapan jalan kecil menuju gubukku.
Ku menghampirinya,
Ku antarkan ia berkunjung sebentar di gubukku yang sederhana.
"Ya Tuhan! ini hadiah terindah dari-Mu! Terima kasih!", ucapku bahagia dalam hati.
Kami berbincang, ditemani dengan sahabatku, Nugraini.
Tak henti-hentinya ku memandang wajah rupawan itu.
Dalam hati ku berkata, "Subhanallah! sungguh tampan wajahmu! betapa bahagia aku pernah memilikimu!".
Angin menghampiriku, "Lihatlah dia! Lelaki yang telah menyakiti batinmu!"
Aku menepis, "Tidak! bagaimanapun ia, hati ini 'kan selalu menerima kehadirannya."
"Ya Tuhan! Tampan rupanya, istimewa akhlaknya, dia lah yang ku mau Ya Tuhan!", doa'ku.
Ku sodorkan Kotak MP3ku, "Perbaiki ini, tolong!", pintaku.
Ya Tuhan!
"Lihatlah betapa bahagianya aku ini! Terima kasih!", ucapku dalam hati.
Tangan indahnya memperbaiki benda kesayanganku itu.
Tak henti-henti ku memandanginya.
"Ya Tuhan! dia lah orang yang aku cinta!", desahku pahit dalam hati.
-----
Siang hari,
Ia mengajakku berkunjung ke istana nya.
"Tuhan, apakah ini mimpi?".
Dahulu, ketika hati ini masihlah menyatu dengannya, tak pernah sekalipun ia mengajakku berkunjung ke istana nya itu.
Angin menertawakanku.
Laju "Jupiter-Coaster" membawaku kesana.
"Ya Tuhan! aku sangat merindukan masa-masa seperti ini", tangisku haru dalam hati.
"Aku sangat merindukan Jupiter-Coaster", ucapku perlahan.
Tibalah kami di istana nya,
Aku disambut oleh dua sosok malaikat yang menghadirkan ia ke dunia ini.
Ya, Ayah dan Ibu nya.
"Tuhan, sekali lagi ku bertanya, apakah ini mimpi?", tanya bahagiaku.
Berbincang sepatah duapatah kata dengan ayah, ibu, dan neneknya.
"Tuhan! terima kasih!", syukurku.
Mereka pergi meninggalkan kami berdua.
Empat mata berbincang seperti dahulu kala.
"Ya Tuhan! bangunkan aku jika ini hanyalah mimpi!", pinta'ku pada Tuhan.
Benar-benar seperti ia yang dulu,
Aku amat merindukan masa-masa seperti ini.
Dalam hati ku bertanya, "Apakah kau masih ingat tentang janji kita dahulu?".
Ku tepiskan angan kosongku, ku lanjutkan berbagi cerita dengannya.
"Ya Tuhan! aku sangat merindukannya!", desahku dalam hati.
Petang itu ia mengantarkanku kembali.
Namun ku rasakan kekecewaan,
Amat kecewa, karena ku tak diantar oleh "Jupiter-Coaster" kesayangan kami.
"Tenanglah fah! selagi ia di dekatmu, semesta pun tiada berarti lagi untukmu!", mentari menenangkanku.
"Terima kasih, Tuhan!"
"Terima kasih, Sayang!".
Hari itu berakhir istimewa, se-istimewa sosoknya.




#Cholifah

Selasa, 22 April 2014

Secarik kisah Imam Ghazali

Ketika imam Ghazali sedang mengajar murid-muridnya, beliau memiliki beberapa pertanyaan untuk murid-muridnya. Pertanyaannya yaitu :

1. Apa di dunia ini yang paling dekat?
2. Apa di dunia ini yang paling jauh?
3. Apa yang paling besar di dunia?
4. Apa yang paling berat di dunia ini?
5. Apa yang paling ringan di dunia ini?
Dan yang terakhir, apa yang paling tajam di dunia ini?

Satu persatu murid-murid pun menjawab pertanyaannya. Dengan seyum yang menawan, imam Ghazali pun menimbali jawaban para muridnya. “ jawaban kalian semua benar, tapi ada jawaban yang lebih tepat dari itu”. Satu persatu imam Ghazali menjawab pertanyaan beserta dengan makna yang terkandung dibalik pertanyaan yang beliau sampaikan.

PERTAMA, yang paling dekat di dunia ini adalah MATI. Kita tak pernah tahu kapan kita akan mati, kematian merupakan hal yang terdekat untuk kita, bisa saja detik ini kita mati, semua tinggal menunggu sang kuasa menentukan waktunya.

KEDUA, yang paling jauh di dunia ini adalah MASA LALU. Sekeras apapun kita mengejar, meraih masa lalu, tak bisa bagi kita untuk menggapai itu, oleh karena itu masa lalu merupakan yang paling jauh diantara yang lainnya.

KETIGA, yang paling besar di dunia ini adalah NAFSU. Kita tak pernah bisa memenuhi semua nafsu kita, betapa besarnya keinginan kita untuk memenuhi apapun yang kita inginkan.

KEEMPAT, mengenai apa yang paling berat di dunia ini adalah AMANAH, sungguh sesuatu yang memikul tanggung jawab yang sangat berat yang tak semua orang bisa melakukannya.

KELIMA, yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT, mengapa demikian? Sholat itu perkara yang sangat mudah, pantas aa orang yang menunda bahkan sampai dia lupa waktunya shalat. Sungguh ibadah yang mudah terlupakan.

Yang TERAKHIR, LIDAH manusia merupakan sesuatu yang paling tajam di dunia ini. Tak satupun masalah timbul akibat ketidaktepatan dalam menggunakan lidah. Berburuk sangka, menfitnah, membicarakan aib orang. Sungguh lidah merupakan sesuatu yang harus diwaspadai,

Cerita singkat mengenai imam Ghazali ini tak hanya memberikan pengetahuan terhadap kita para pembaca. Beberapa hikmah dapat diambil dari kisah teladan beliau. Kisah seorang guru yang tak hanya mengajarkan ilmu tapi juga mendidik secara moral kepada setiap muridnya. Pesan moral tak pernah luput dalam setiap pengajarannya. Tulus ikhlas mendidik terpancar dalam keberhasilan tiap muridnnya. Andai saja semua guru di negeriku seperti beliau. Keikhlasan tiada tara hanya untuk muridnya untuk mencapai kebahagiaan bersama.
Subhanallah.









Sumber : Website, FB

Senin, 21 April 2014

Sumpah Pemuda (Edited by Cholifah) - Just For Fun

 Sumpah pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahurnya bangsa Indonesia.

Rumusan sumpah pemuda ditulis Moehammad Yamin pada selembar kertas ketika Mr.Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Sejak dirumuskan, naskah sumpah pemuda telah diterjemahkan dalam beberapa versi untuk menyesuaikan kebutuhan pemuda. Berikut ini sumpah pemuda yang pernah dirumuskan kembali.




Sumpah Pemuda (versi Orisinil)

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempa darah jang satoe, tanah air Indonesia.

Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.





Sumpah Pemuda (versi Ejaan yang disempurnakan)

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.





Sumpah Pemuda (versi Remaja Masa Kini)

pHirsT
Qmiie PoeTraa aNd PoeTrii EndhoNesHa,,, mEngaQhu BeeThumPa dAraH yaNk CatoE (ih Ceyem),,, TanAh Aer EndhoNesHa....

kEdhuWa
Qmiie PoeTraa aNd PoeTrii EndhoNesHa,,, mEngaQhu beRbhanGsa yaNk CatoE, bhanGsa EndhoNesHa....

kEthiGa
Qmiie PoeTraa aNd PoeTrii EndhoNesHa,,, mnJhuNjhuNg BhasA PercaToeaN,,, BhasA EndhoNesHa....





Sumpah Pemuda (versi Ejaan yang diKaskuskan)

Pertamax
Ane agan dan aganwati Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Keduax
Ane agan dan aganwati Indonesia, mengecek kulkas yang satu, kulkas Indonesia.

Ketigax
Ane agan dan aganwati Indonesia, ijin menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.





Sumpah Pemuda (versi Ejaan yang diPantunkan)

Kaciek
Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Wahai putra dan putri Indonesia, mari berantas Pornografi. Hehehe

Kaduo
Putra dan putri Indonesia, silahkan mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
*bukansumpah* *tidakdipaksa* wkwkwk

Katigo
Jalan-jalan ke kota Paris, lihat gedung berbaris-baris, kami putra dan putri Indonesia, auu ahh gelapp, yang penting gw manis. Wkakakakaka





Sumpah Pemuda (versi Salah Pergaulan)

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, ngakunya bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, tapi liburan suka ke Singapura. *ngeselinbgtlo*

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa In.... emmm, kasih tau ga yaaa? -_-

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tapi kalo ngomong pke bahasa Inggris, kamu berubah :’(





Sumpah Pemuda (versi Galau dan Jomblo)

Pertama
Kami putra dan putri Galau Indonesia, memiliki waktu galau yang satu, waktu Indonesia bagian Galau.

Kedua
Kami putra dan putri Jomblo Indonesia, berjanji untuk selalu tampil ngenes agar lebih diperhatikan. bruakaakaakaa

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Kalbu Indonesia.
hihihi








Sumber : Buku Liputan 9 (100% HOAX)

Minggu, 20 April 2014

Lirik Lagu Egoist - Euterpe (OST Guilty Crown)



Saita no no hana yo aa douka oshiete o-kure

Hito wa naze kizutsukeatte arasou no deshou

Rin to saku hana yo soko kara nani ga mieru

Hito wa naze yurushiau koto dekinai no deshou

Ame ga sugite natsu wa ao o utsushita hitotsu ni natte

Chiisaku yureta watashi no mae de nani mo iwazu ni

Karete yuku tomo ni omae wa nani o omou

Kotoba o motanu sono ha de nanto ai o tsutaeru

Aa natsu no hi wa kagette kaze ga nabitta futatsu kasanatte

Ikita akashi o watashi wa utau na mo naki mono no tame~





  English Verse :

The blooming wild flower
Ah, please tell me
Why do people fight
And hurt each other

The gallantly blooming flower
What do you see from there?
Why are people
Unable to forgive each other

After the rain, summer
Shifts blue hues to everything else
Becoming one
Swaying lightly
In front of me
Without saying a word

My slowly withering friend
What are you thinking of?
You don’t have words, but just by those leaves
You convey your love

The summer sun is hidden behind the clouds
Swayed by the wind
As the two overlap
I will sing
The proof that you have lived
For those without even a name~








Sumber : Website

Lirik Lagu RF Online

When i saw you for the first time
I knew you're the one
You didn't say a word to me 
But love wasn't the end*
When you held my hand
Pulled me into your world
From that on my life has changed for good
Now I'll never feel lonely again

'Cause you are in my life now
How can i explain to you
The way i feel inside
When i think of you
I thank you for everything that you show me
Don't you ever forget that i love you 

Now, I know that, someday, real soon*
You'll be right next to me
Holding me so tight
So I will always be yours
Although we can't be together now
Remember I am here for you

When i know you there for me
Whenever I want to be with you
I just throw my lies and pretend you here
I see you, I touch you, I feel you, like real
Nothing can ever change what i feel inside
How long must i be far away from you
I don't know you, but i know we are one~





Sumber : Website