"Kenapa Nur Cholifah's Page ganti jargon?" || Bukan ganti, tetapi diperbarui. Yang awalnya Keep Positive Thinking menjadi "Boleh Baca Boleh Hina, Asal Bahagia". || "Maknanya?" || "Boleh Baca", karena seluruh blog berisi tulisan dan sedikit gambar, bacalah, siapa tahu dengan membaca akan menambah energi positif dalam diri pembaca, yaa makin bersyukur kalau pembaca bisa menyaring ilmu di dalam blog yang ngawur ini. Haha. "Boleh Hina", karena semakin tulisan saya dihina maka saya akan makin belajar (berproses) menjadi lebih baik, supaya pembaca setia Nur Cholifah's Page ga pernah bosan nongkrong disitu. Haha. "Asal Bahagia", intinya kita kita semua harus selalu berbahagia. Karena bahagia sangat mahal harganya. Dan kalau ada sesuatu yang menarik pada kacamata kalian, bolehlah sharing-hearing dengan saya, siapa tahu nanti saya semangat nulis soal itu, dan langsung posting di Blogger. Ahahaha pede sekali ya! Tidak masalah pede, asal tidak takabbur. Naudzubillah.
Sekian, tulisan ini banyak sekali, jangan pernah lelah membaca ya :)
Jargon yang pertama tetap diingat juga, "KEEP POSITIVE THINKING!".
Nongkrong terus ya disini!
Selamat pagi~
Translate
Minggu, 26 Februari 2017
Orang Dewasa
Suatu ketika datanglah seorang anak kecil kepada kakaknya, lalu bertanya, "apa enaknya jadi orang dewasa kak?", si kakak kebingungan hendak menjawab apa.
"Begini dik, jadi orang dewasa enak, keringetan demi kehidupan".
Si adik terdiam sambil memikirkan jawaban si kakak.
"Lalu kak, Apa sulitnya jadi orang dewasa?".
Si kakak makin kebingungan.
"Begini dik, sulitnya jadi orang dewasa saat orang dewasa melihat orang tua yang semakin tua, sedangkan pikiran mereka bertanya-tanya apakah orang tua sudah bahagia?".
Si adik menangis. Lalu berkata dengan keras "Aku akan menikmati masa menjadi anak kecil kak".
si adik pergi, sang kakak mematung, "aku ingin ibu-dan ayah selalu berbahagia, termasuk adik-adikku semuanya", terlantun jelas dalam hatinya.
Tidak Curang, kan?
Pagi itu aku duduk seorang diri di bawah tangga sebuah pasar tradisional di kota pahlawan. Rasa kantuk di pagi hari setia bersamaku dengan sedikit sebal karena menunggu seorang teman. Lama sekali.
Lima puluh menit setelah itu akhirnya temanku menunjukkan batang hidungnya, oh lega.
Kami mulai masuk ke dalam pasar tradisional semi modern itu.
Awal kami masuk, deretan toko kosmetik menyapa kami. Temanku mengalihkan pandangan karena kami amat menggilai kosmetik, sangat bertentangan dengan isi dompet.
Ku teringat sesuatu,
Bergegaslah kami mencari toko pigora.
"Untuk apa pigora?", tanyanya bingung.
"Aku ingin menghadiahi seseorang di pernikahannya esok.", jawabku.
Kami melanjutkan langkah.
Kutemukan toko pigora di ujung, selain menjual pigora toko tersebut juga menjual berbagai souvenir dan kerajinan untuk mahar pernikahan. Aku meleleh melihatnya.
Ya! Lalu kuambil sebuah pigora berwarna putih susu. Sepertinya ini cocok.
Sambil menunggu penjual, aku dan temanku melihat-lihat berbagai macam benda cantik disana.
"Apakah sebentar lagi fah?", tanyaku dalam hati.
"Dengan siapa?", pertanyaan selanjutnya.
Temanku mengambil sebuah amplop undangan dengan desain feminim, klasik, tapi juga terkesan seksi.
"Nanti kalau kamu menikah undang aku pakai ini ya?", canda temanku.
"(Sambil tertawa) aku menikah dengan apa?", umpanku.
Bukan dengan siapa melainkan dengan apa, terkesan sangat mustahil mendapatkan seseorang yang se-iman dan se-pemikiran.
Bodoh, aku enggan memikirkannya lagi.
Si penjual datang, membungkus pigora yang kupilih, ku bayar. Aku dan temanku melanjutkan langkah menjelajahi pasar.
Tiga langkah di depan kami berjajar-jajar gaun pengantin putih berkilauan menyiksa mata, "indahnya!", gumamku.
"Bagus ya?", tanya temanku dengan tanpa berkedip melihat gaun-gaun itu.
"Ah biasa saja. Tidak ada model berhijab ya?", sahutku.
"Pasti ada lah", jawab temanku sedikit menggoda.
Mengapa beberapa hal berbicara tentang pernikahan? Seakan sengaja menyiksaku.
Hmmm.. Apakah point penting seluruhnya adalah "Pernikahan" ?
Aku sedikit irih dengan temanku, dia memiliki seseorang yang special di hatinya. Hanya sedikit irih, sedikit saja.
Hari berlalu begitu cepat, aku berusaha melupakan point penting hari itu, agar aku tenang. Tidak curang kan?
Lima puluh menit setelah itu akhirnya temanku menunjukkan batang hidungnya, oh lega.
Kami mulai masuk ke dalam pasar tradisional semi modern itu.
Awal kami masuk, deretan toko kosmetik menyapa kami. Temanku mengalihkan pandangan karena kami amat menggilai kosmetik, sangat bertentangan dengan isi dompet.
Ku teringat sesuatu,
Bergegaslah kami mencari toko pigora.
"Untuk apa pigora?", tanyanya bingung.
"Aku ingin menghadiahi seseorang di pernikahannya esok.", jawabku.
Kami melanjutkan langkah.
Kutemukan toko pigora di ujung, selain menjual pigora toko tersebut juga menjual berbagai souvenir dan kerajinan untuk mahar pernikahan. Aku meleleh melihatnya.
Ya! Lalu kuambil sebuah pigora berwarna putih susu. Sepertinya ini cocok.
Sambil menunggu penjual, aku dan temanku melihat-lihat berbagai macam benda cantik disana.
"Apakah sebentar lagi fah?", tanyaku dalam hati.
"Dengan siapa?", pertanyaan selanjutnya.
Temanku mengambil sebuah amplop undangan dengan desain feminim, klasik, tapi juga terkesan seksi.
"Nanti kalau kamu menikah undang aku pakai ini ya?", canda temanku.
"(Sambil tertawa) aku menikah dengan apa?", umpanku.
Bukan dengan siapa melainkan dengan apa, terkesan sangat mustahil mendapatkan seseorang yang se-iman dan se-pemikiran.
Bodoh, aku enggan memikirkannya lagi.
Si penjual datang, membungkus pigora yang kupilih, ku bayar. Aku dan temanku melanjutkan langkah menjelajahi pasar.
Tiga langkah di depan kami berjajar-jajar gaun pengantin putih berkilauan menyiksa mata, "indahnya!", gumamku.
"Bagus ya?", tanya temanku dengan tanpa berkedip melihat gaun-gaun itu.
"Ah biasa saja. Tidak ada model berhijab ya?", sahutku.
"Pasti ada lah", jawab temanku sedikit menggoda.
Mengapa beberapa hal berbicara tentang pernikahan? Seakan sengaja menyiksaku.
Hmmm.. Apakah point penting seluruhnya adalah "Pernikahan" ?
Aku sedikit irih dengan temanku, dia memiliki seseorang yang special di hatinya. Hanya sedikit irih, sedikit saja.
Hari berlalu begitu cepat, aku berusaha melupakan point penting hari itu, agar aku tenang. Tidak curang kan?
Selasa, 21 Februari 2017
Ceritakan Padaku
Belum saatnya pergi jauh,
Belum.
Sampai kapan menunda?
Malam ini ku perhatikan seseorang yang sedang sibuk memilih minuman, minuman di lemari pendingin sebuah minimarket.
Wanita itu mengambil sekotak susu coklat, lalu bergerak maju-mundur dari pintu lemari pendingin. Aku mengira ia kebingungan memilih rasa susu.
Ah rupanya ia mengembalikan susu coklat itu, bergegas menutup pintu lemari es, membuka pintu lemari es di seberangnya, dan happp..ia mengangkat minuman sari buah jeruk (jus).
Ugh.. secepat itu ia mengubah pilihan.
***
Aku menemukan adanya tatapan kebingungan di depanku, kaca lemari es pendingin minuman.
Selang 2 menit, tatapan itu berubah yakin, dan mengambil pilihannya.
Oh, rupanya wanita ini pandai membuat keputusan.
Aku meremas dua buah mie instant yang ada di kedua tanganku,
Aku terdiam,
"Mengapa aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti wanita itu?", eranganku dalam hati.
Bukan terhitung hari ataupun bulan, ini sudah hitungan tahun, tetap saja aku belum bisa memutuskan sesuatu untukku, bukan, untuk hidupku.
***
Wanita itu segera menjauh dari pintu lemari pendingin, berjalan beriringan denganku, "ayo ke kasir".
Aku melangkah terbata-bata, pikiranku sangat sibuk, sibuk memikirkan kalimat terburuk untuk mengatai diriku.
Tidak ada yang tahu isi hati manusia,
Boleh jadi apa yang kulihat bukan keinginan yang sebenarnya. Boleh jadi pula semua itu hanya sebatas keinginan, keinginan untuk merasakan sesuatu yang berbeda dari 'biasanya'.
Ku hembuskan nafas,
Ah iya, sesuatu yang berbeda dari 'biasanya'. Apa?
Hidupku hanya satu warna, bisa kau temui aku seperti Color Overlay dalam Layer Style pada software Photoshop.
Jangan mengutuk aku menjadi seseorang yang menyedihkan, aku masih sanggup tertawa. Ceritakan padaku, bagaimana bisa aku jatuh hati padanya, aku akan tertawa. (Nur Cholifah)
Belum.
Sampai kapan menunda?
Malam ini ku perhatikan seseorang yang sedang sibuk memilih minuman, minuman di lemari pendingin sebuah minimarket.
Wanita itu mengambil sekotak susu coklat, lalu bergerak maju-mundur dari pintu lemari pendingin. Aku mengira ia kebingungan memilih rasa susu.
Ah rupanya ia mengembalikan susu coklat itu, bergegas menutup pintu lemari es, membuka pintu lemari es di seberangnya, dan happp..ia mengangkat minuman sari buah jeruk (jus).
Ugh.. secepat itu ia mengubah pilihan.
***
Aku menemukan adanya tatapan kebingungan di depanku, kaca lemari es pendingin minuman.
Selang 2 menit, tatapan itu berubah yakin, dan mengambil pilihannya.
Oh, rupanya wanita ini pandai membuat keputusan.
Aku meremas dua buah mie instant yang ada di kedua tanganku,
Aku terdiam,
"Mengapa aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti wanita itu?", eranganku dalam hati.
Bukan terhitung hari ataupun bulan, ini sudah hitungan tahun, tetap saja aku belum bisa memutuskan sesuatu untukku, bukan, untuk hidupku.
***
Wanita itu segera menjauh dari pintu lemari pendingin, berjalan beriringan denganku, "ayo ke kasir".
Aku melangkah terbata-bata, pikiranku sangat sibuk, sibuk memikirkan kalimat terburuk untuk mengatai diriku.
Tidak ada yang tahu isi hati manusia,
Boleh jadi apa yang kulihat bukan keinginan yang sebenarnya. Boleh jadi pula semua itu hanya sebatas keinginan, keinginan untuk merasakan sesuatu yang berbeda dari 'biasanya'.
Ku hembuskan nafas,
Ah iya, sesuatu yang berbeda dari 'biasanya'. Apa?
Hidupku hanya satu warna, bisa kau temui aku seperti Color Overlay dalam Layer Style pada software Photoshop.
Jangan mengutuk aku menjadi seseorang yang menyedihkan, aku masih sanggup tertawa. Ceritakan padaku, bagaimana bisa aku jatuh hati padanya, aku akan tertawa. (Nur Cholifah)
Masih Rindu ?
Suatu siang aku dikejutkan dengan sepasang kekasih yang sedang berseteru hebat. Emmm.. rupanya mereka saling menuntut pengorbanan mereka.
'Pengorbanan' dalam cinta itu 'hal biasa',
Karena sudah menjadi 'hal biasa' maka tak patut lagi disebut 'Pengorbanan'.
Kalau kau masih menyebutnya 'Pengorbanan', cintamu masih dangkal, atau jangan-jangan itu bukan cinta (?)
Dan lagi,
Kau pun tak perlu menyebut pengorbanan'mu padanya. jika ia paham pastilah ia memahami itu sebagai 'cinta', bukan 'pengorbanan'.
Aku pun sedang berbicara padamu, iya, kamu, entah siapa, diriku sendiri mungkin.
*bercermin
***
Jangankan mereka sepasang kekasih muda,
Ibu dan ayahku saja masihlah gemar berbicara pengorbanan.
Ah.. aku tahu apa.
Pikiran ini melayang,
Seperti menerka sesuatu dibalik awan.
Kupandangi di luar jendela sana,
Tergambar aku, kamu, dia, dan mereka.
Pandanganku mulai bercerita entah seperti apa alurnya, namun amat ku ingat, aku tetaplah aku, sudah bosan bicara tentangmu, perjuangan, dan alasan.
Bukan aku yang menyerah atau pergi, tapi ceritanya yang memang sudah jauh berubah.
Setelah itu ku akhiri, hujan deras disana, ku tutup jendelaku saja.
***
Kurebahkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamar,
Bukan seperti ini seharusnya.
Ya.. lalu bagaimana? Rencanaku hanya storyboard, pemainnya bukan hanya aku.
"Perjuangan macam apa yang membuatmu menangis setiap waktu?", seperti ada yang menyapaku demikian.
Jangan berlebihan,
Tidak ada siapa-siapa,
Hanya ada angin dan kerinduan.
Ku tutup mataku sejenak. Aku terlelap.
***
Hujannya belum reda,
Ku terbangun, ku perhatikan tetes-tetes hujan di kaca jendela.
Tubuh ini mematung.
Dingin, gemetar, dan menggigil.
Ku teringat kedua mata itu,
Semakin menggigil.
Kedua telapak tangannya menempel, memohon "maaf". Ingatanku sangat kuat rupanya.
Apakah aku masih rindu? Semoga tidak, ini hanya kedinginan karena di luar sedang hujan. "Aku benar, kan?", tanyaku termenung, menggigit bibir. (Nur Cholifah)
'Pengorbanan' dalam cinta itu 'hal biasa',
Karena sudah menjadi 'hal biasa' maka tak patut lagi disebut 'Pengorbanan'.
Kalau kau masih menyebutnya 'Pengorbanan', cintamu masih dangkal, atau jangan-jangan itu bukan cinta (?)
Dan lagi,
Kau pun tak perlu menyebut pengorbanan'mu padanya. jika ia paham pastilah ia memahami itu sebagai 'cinta', bukan 'pengorbanan'.
Aku pun sedang berbicara padamu, iya, kamu, entah siapa, diriku sendiri mungkin.
*bercermin
***
Jangankan mereka sepasang kekasih muda,
Ibu dan ayahku saja masihlah gemar berbicara pengorbanan.
Ah.. aku tahu apa.
Pikiran ini melayang,
Seperti menerka sesuatu dibalik awan.
Kupandangi di luar jendela sana,
Tergambar aku, kamu, dia, dan mereka.
Pandanganku mulai bercerita entah seperti apa alurnya, namun amat ku ingat, aku tetaplah aku, sudah bosan bicara tentangmu, perjuangan, dan alasan.
Bukan aku yang menyerah atau pergi, tapi ceritanya yang memang sudah jauh berubah.
Setelah itu ku akhiri, hujan deras disana, ku tutup jendelaku saja.
***
Kurebahkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamar,
Bukan seperti ini seharusnya.
Ya.. lalu bagaimana? Rencanaku hanya storyboard, pemainnya bukan hanya aku.
"Perjuangan macam apa yang membuatmu menangis setiap waktu?", seperti ada yang menyapaku demikian.
Jangan berlebihan,
Tidak ada siapa-siapa,
Hanya ada angin dan kerinduan.
Ku tutup mataku sejenak. Aku terlelap.
***
Hujannya belum reda,
Ku terbangun, ku perhatikan tetes-tetes hujan di kaca jendela.
Tubuh ini mematung.
Dingin, gemetar, dan menggigil.
Ku teringat kedua mata itu,
Semakin menggigil.
Kedua telapak tangannya menempel, memohon "maaf". Ingatanku sangat kuat rupanya.
Apakah aku masih rindu? Semoga tidak, ini hanya kedinginan karena di luar sedang hujan. "Aku benar, kan?", tanyaku termenung, menggigit bibir. (Nur Cholifah)
Rabu, 16 November 2016
Hiburan atau Apatis?
Edaran disdik Sumenep memobilisasi siswa libur sekolah dan menyaksikan acara media, lalu, apa isi kepalamu tentang hal ini? Media, apa yang terlintas di benak kita? Media besar masuk Sumenep? Media memegang kendali penting pada proses pendewasaan pola pikir masyarakat. Media merupakan suatu organisasi yang terstruktur, menjadi agen penyedia informasi untuk masyarakat. Namun, dewasa ini, media telah memonopoli kehidupan kita. Apalagi media-media sekuler yang marak di Indonesia. Bahkan Disdik Kabupaten Sumenep mengeluarkan Edaran untuk meliburkan satu hari siswa SMP-SMA untuk media. Media saat ini banyak disetir oleh orang-orang berkepentingan. Dulu, media murni diperuntukkan untuk kepentingan masyarakat, lambat laun media menjadi sesuatu yang dapat dimiliki oleh perorangan. Bagaimana dengan saat ini? Media saat ini sebagai senjata untuk mengumpulkan keuntungan bagi beberapa orang saja, tidak mementingkan kebutuhan atau kepentingan publik, maka sebentar lagi publik lah yang hanya akan diterpa oleh media tanpa bisa membatasi kontennya. Media sangat berpengaruh besar pada kehidupan, contohnya saat perang dunia ke-II, betapa hebatnya pesan propaganda melalui media. Bagaimanakah media di Madura? Lihat saja apa yang terjadi saat ini, masyarakat Sumenep sangat antusias menyaksikan sebuah acara hiburan yang diadakan oleh SCTV (12/11/2016). Konser tersebut menghadirkan banyak bintang-bintang ternama. Membahas konser, pastilah yang terlintas di pikiran kita adalah Hiburan. Saya cukup heran dan sedikit terkejut, mengapa acara musik Inbox — yang terbilang minim nilai moral maupun akademik — tersebut bisa dengan mudahnya diterima di kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Karena, pada kacamata banyak orang, kabupaten Sumenep Madura sangat kental sekali keislaman dan budayanya. Acara tersebut diterima disana dengan cukup mudah, acara tersebut berlangsung mulai 12 sampai 13 November 2016. Selama dua hari, masyarakat Sumenep akan mengonsumsi acara hiburan seperti itu. Bahkan, di beberapa sekolah dengan mudahnya meliburkan siswa-siswanya khusus untuk menyaksikan acara ini. Bagaimana sikap pemuda-pemuda kita menanggapi hal ini? Mereka hedon dan apatis. Yang mereka tahu hanyalah biar seneng saja.
Media-media sekuler terus membanjiri kehidupan masyarakat kita dengan 1001 jenis hiburan dan kesenangan, supaya masyarakat tidak tahu hal apa dibalik itu semua, masyarakat tidak mengerti kenyataan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak mengerti praktik kolonialisme yang sedang melanda daerahnya. Sumenep sedang dieksploitasi oleh media. Melalui media-media demikian sejatinya mereka ingin merusak mental masyarakat, membuat tumpul nalarnya, membuat mati spiritualnya, sehingga apa yang terjadi berikutnya? Masyarakat hanyalah manusia-manusia lumpuh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berfikir semua ini baik-baik saja, tidak ada masalah. Saya ingin mengutip salah satu kalimat dari dosen Perencanaan Produksi Media Elektronik dan Penulisan Artikel Populer, Surokim, S.Sos, M.Sos, “Kita harus menjaga jarak, menarik diri, agar kita mengetahui bagaimana suatu keadaan itu dalam pandangan yang lebih luas, lebih masiv, tidak sepotong-potong saja. Jika kita menjaga jarak, maka hal apapun itu kita akan dengan mudah menemukan permasalahan dan kritik.”.
Hal konyol terkait fenomena hiburan yang diadakan LIVE di Stadion Ahmad Yani Sumenep adalah mengenai tanggapan beberapa warga Sumenep sendiri. Mereka tidak merasa dirugikan, mereka hanya merasa ini sebagai hiburan, meskipun anak-anak mereka diliburkan sementara selama satu hari hanya untuk menyaksikan acara ini. Sebaliknya, beberapa orang bangga dengan diadakannya acara ini, dengan alibi Explore Sumenep, supaya Sumenep dikenal masyarakat Indonesia dalam cakupan yang luas.. bla bla bla.. pada umumnya, banyak teori media telah menjelaskan mengenai dampak media dengan perspektif dan perubahan tingkah laku audience-nya ketika berinteraksi dengan media. Dampak dari acara ini pun secara bertahap dapat memengaruhi tingkah laku masyarakat Sumenep, dan nanti pasti berujung pada budaya yang sedikit demi sedikit akan bergeser. Perubahan ini akibat informasi yang datang dari media atau dampak dari media itu sendiri. Begitu kuatnya media mendorong pola pikir masyarakat Sumenep dengan dampak yang begitu hebat seperti jarum suntik (Hypodermic). Teori jarum suntik menjelaskan bagaimana persuasi yang datang dari media memegang kendali penting dalam KAP (Kognitif, Afektif, Psikomotorik) masyarakat Sumenep. Contoh kecil yang saya amati saat acara ini berlangsung, masyarakat Sumenep sangat senang menerima hiburan, Dinas pun meluncurkan edaran untuk meliburkan siswa-siswinya selama satu hari untuk pro dengan acara Inbox SCTV tersebut. Mereka berdalih hal ini untuk penyambutan tamu, nilai tambahannya adalah Sumenep nantinya bisa dikenal oleh warga Indonesia melalui acara ini, masyarakat luas akan mengenal Sumenep dengan banjir budayanya.
Acara ini sangat berseberangan dengan Teori Proses Selektif Media, dimana pada teori tersebut dikatakan bahwa “Masyarakat melakukan suatu proses seleksi sehingga masyarakatlah yang menentukan efek apa yang mereka ingin dapatkan dari informasi yang diberikan oleh media”. Pada fenomena ini, masyarakat hanya menerima saja, mereka tidak memilah-memilih. Intinya iya iya saja. Mau dieksploitasi, iya. Mau ditumpulkan pemikirannya, iya. Lalu? Kemanakah pemerintah kabupaten Sumenep sedang duduk manis melihat masyarakat dengan nilai agama yang cukup tinggi ditumpulkan begitu mudahnya? Individu akan melakukan proses imitasi yang mereka lihat dari media. Semakin dekat apa yang kita saksikan dengan karakter diri yang kita percayai, maka semakin dekat pula kita dengan proses imitasi tersebut. . Alhasil, ini hiburan atau eksploitasi? Dan siapa yang apatis disini? Wallohu alam bissowab.
Media-media sekuler terus membanjiri kehidupan masyarakat kita dengan 1001 jenis hiburan dan kesenangan, supaya masyarakat tidak tahu hal apa dibalik itu semua, masyarakat tidak mengerti kenyataan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak mengerti praktik kolonialisme yang sedang melanda daerahnya. Sumenep sedang dieksploitasi oleh media. Melalui media-media demikian sejatinya mereka ingin merusak mental masyarakat, membuat tumpul nalarnya, membuat mati spiritualnya, sehingga apa yang terjadi berikutnya? Masyarakat hanyalah manusia-manusia lumpuh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berfikir semua ini baik-baik saja, tidak ada masalah. Saya ingin mengutip salah satu kalimat dari dosen Perencanaan Produksi Media Elektronik dan Penulisan Artikel Populer, Surokim, S.Sos, M.Sos, “Kita harus menjaga jarak, menarik diri, agar kita mengetahui bagaimana suatu keadaan itu dalam pandangan yang lebih luas, lebih masiv, tidak sepotong-potong saja. Jika kita menjaga jarak, maka hal apapun itu kita akan dengan mudah menemukan permasalahan dan kritik.”.
Hal konyol terkait fenomena hiburan yang diadakan LIVE di Stadion Ahmad Yani Sumenep adalah mengenai tanggapan beberapa warga Sumenep sendiri. Mereka tidak merasa dirugikan, mereka hanya merasa ini sebagai hiburan, meskipun anak-anak mereka diliburkan sementara selama satu hari hanya untuk menyaksikan acara ini. Sebaliknya, beberapa orang bangga dengan diadakannya acara ini, dengan alibi Explore Sumenep, supaya Sumenep dikenal masyarakat Indonesia dalam cakupan yang luas.. bla bla bla.. pada umumnya, banyak teori media telah menjelaskan mengenai dampak media dengan perspektif dan perubahan tingkah laku audience-nya ketika berinteraksi dengan media. Dampak dari acara ini pun secara bertahap dapat memengaruhi tingkah laku masyarakat Sumenep, dan nanti pasti berujung pada budaya yang sedikit demi sedikit akan bergeser. Perubahan ini akibat informasi yang datang dari media atau dampak dari media itu sendiri. Begitu kuatnya media mendorong pola pikir masyarakat Sumenep dengan dampak yang begitu hebat seperti jarum suntik (Hypodermic). Teori jarum suntik menjelaskan bagaimana persuasi yang datang dari media memegang kendali penting dalam KAP (Kognitif, Afektif, Psikomotorik) masyarakat Sumenep. Contoh kecil yang saya amati saat acara ini berlangsung, masyarakat Sumenep sangat senang menerima hiburan, Dinas pun meluncurkan edaran untuk meliburkan siswa-siswinya selama satu hari untuk pro dengan acara Inbox SCTV tersebut. Mereka berdalih hal ini untuk penyambutan tamu, nilai tambahannya adalah Sumenep nantinya bisa dikenal oleh warga Indonesia melalui acara ini, masyarakat luas akan mengenal Sumenep dengan banjir budayanya.
Acara ini sangat berseberangan dengan Teori Proses Selektif Media, dimana pada teori tersebut dikatakan bahwa “Masyarakat melakukan suatu proses seleksi sehingga masyarakatlah yang menentukan efek apa yang mereka ingin dapatkan dari informasi yang diberikan oleh media”. Pada fenomena ini, masyarakat hanya menerima saja, mereka tidak memilah-memilih. Intinya iya iya saja. Mau dieksploitasi, iya. Mau ditumpulkan pemikirannya, iya. Lalu? Kemanakah pemerintah kabupaten Sumenep sedang duduk manis melihat masyarakat dengan nilai agama yang cukup tinggi ditumpulkan begitu mudahnya? Individu akan melakukan proses imitasi yang mereka lihat dari media. Semakin dekat apa yang kita saksikan dengan karakter diri yang kita percayai, maka semakin dekat pula kita dengan proses imitasi tersebut. . Alhasil, ini hiburan atau eksploitasi? Dan siapa yang apatis disini? Wallohu alam bissowab.
Nur Cholifah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura sekaligus anggota dari Divisi Teknologi Informasi Creative Computer Club Madura.
Rabu, 02 November 2016
Aku yang Selalu Rindu
Kawan, bolehkah aku jujur padamu, pada kalian?
Sejujurnya aku sangat merindukan "kita".
Kita yang dulu, aku yang begitu, kalian yang begitu.
Begitu? Iya begitu. Semangat yang berkobar-kobar.
Kawan, ingatkah kalian saat awal memasuki perkuliahan? Canggung, bahagia, semangat, rasa penasaran yang sangat tinggi, jail, tak kenal ampun. Dimanakah itu semua saat ini?
Aku rindu, sangat rindu.
Ketika kita mendapat materi, dua hingga tiga lembar kertas loose leaf penuh dengan alphabet berjajar rapi.
Ketika satu kelompok unjuk materi di depan kursi-kursi rapi milik kita, kita sangat antusias memperhatikan. Pasang kuping, bolpoin menatap buku catatan.
Dua kuping terpasang, pandangan kedepan, tangan beraksi menulis detail.
Usai itu, belasan tangan kalian terangkat dengan semangat, kepala kalian penuh dengan tanda tanya, mata kalian menyala-nyala. Bukan hanya kalian yang begitu, aku terutama.
Aku rindu semua itu.
Kawan, masih ingatkah, ketika bapak-ibu dosen selesai memaparkan materi, kalian sibuk dengan bolpoin, belasan lain sibuk berebut waktu bertanya (?) Aku sangat mengingatnya. Aku merindukan kala itu, dimana ketika aku mengajukan tanyaku, kalian sibuk berfikir, lalu menanggapi pertanyaanku, saling beradu, usai itu kita tertawa bersama, karena kita telah mengetahui isi kepala kita masing-masing.
Kawan, dulu kita bersumpah masuk bersama keluar pun bersama, betapa polosnya diri kita saat itu. Tahukah kalian, saat ini aku tertawa dalam kesendirian setiap aku mengingat tentang itu.
Kawan, kita baru setengah perjalanan, kemanakah itu semua? Ini baru setengah.
Yang kurasa dan kulihat dulu kini tak lagi sama, jelas teramat berbeda. Kalian tahu apa perbedaan kita?
Aku ingin kesini, kau kesitu, dia kesana, kita sangat berbeda. Ku akui perbedaan memang indah.
Sangat indah jika tanpa rasa benci dan rasa ingin menjatuhkan.
Sangat indah jika tanpa permusuhan dan rasa ingin menjadi pemenang.
Bangunlah! Apakah ini sebuah pertandingan?
Tidak.. ini persaingan. Persaingan dengan diri kita masing-masing.
Kalau kalian bertanya padaku apa yang aku inginkan, aku dengan tegas akan menjawab "TERUS MAJU. BERSAINGLAH DENGAN SEHAT. DAN SELALU RINDUKAN KITA YANG DULU."
Aku tak mengajak ataupun meminta kalian kembali seperti dulu atau bahkan menjadi yang dulu, aku hanya ingin kalian merasa "Rindu".
Ini tulus, dari aku, yang selalu rindu. (NC)
Sejujurnya aku sangat merindukan "kita".
Kita yang dulu, aku yang begitu, kalian yang begitu.
Begitu? Iya begitu. Semangat yang berkobar-kobar.
Kawan, ingatkah kalian saat awal memasuki perkuliahan? Canggung, bahagia, semangat, rasa penasaran yang sangat tinggi, jail, tak kenal ampun. Dimanakah itu semua saat ini?
Aku rindu, sangat rindu.
Ketika kita mendapat materi, dua hingga tiga lembar kertas loose leaf penuh dengan alphabet berjajar rapi.
Ketika satu kelompok unjuk materi di depan kursi-kursi rapi milik kita, kita sangat antusias memperhatikan. Pasang kuping, bolpoin menatap buku catatan.
Dua kuping terpasang, pandangan kedepan, tangan beraksi menulis detail.
Usai itu, belasan tangan kalian terangkat dengan semangat, kepala kalian penuh dengan tanda tanya, mata kalian menyala-nyala. Bukan hanya kalian yang begitu, aku terutama.
Aku rindu semua itu.
Kawan, masih ingatkah, ketika bapak-ibu dosen selesai memaparkan materi, kalian sibuk dengan bolpoin, belasan lain sibuk berebut waktu bertanya (?) Aku sangat mengingatnya. Aku merindukan kala itu, dimana ketika aku mengajukan tanyaku, kalian sibuk berfikir, lalu menanggapi pertanyaanku, saling beradu, usai itu kita tertawa bersama, karena kita telah mengetahui isi kepala kita masing-masing.
Kawan, dulu kita bersumpah masuk bersama keluar pun bersama, betapa polosnya diri kita saat itu. Tahukah kalian, saat ini aku tertawa dalam kesendirian setiap aku mengingat tentang itu.
Kawan, kita baru setengah perjalanan, kemanakah itu semua? Ini baru setengah.
Yang kurasa dan kulihat dulu kini tak lagi sama, jelas teramat berbeda. Kalian tahu apa perbedaan kita?
Aku ingin kesini, kau kesitu, dia kesana, kita sangat berbeda. Ku akui perbedaan memang indah.
Sangat indah jika tanpa rasa benci dan rasa ingin menjatuhkan.
Sangat indah jika tanpa permusuhan dan rasa ingin menjadi pemenang.
Bangunlah! Apakah ini sebuah pertandingan?
Tidak.. ini persaingan. Persaingan dengan diri kita masing-masing.
Kalau kalian bertanya padaku apa yang aku inginkan, aku dengan tegas akan menjawab "TERUS MAJU. BERSAINGLAH DENGAN SEHAT. DAN SELALU RINDUKAN KITA YANG DULU."
Aku tak mengajak ataupun meminta kalian kembali seperti dulu atau bahkan menjadi yang dulu, aku hanya ingin kalian merasa "Rindu".
Ini tulus, dari aku, yang selalu rindu. (NC)
Langganan:
Postingan (Atom)


